Akhirnya tiba juga
di kota Kaoshiung setelah 1 jam 40 menit melesat bersama Taiwan High Speed Rail yang berangkat dari kota Taoyuan. Kota No. 2
terbesar di Taiwan yang terletak di ujung selatan Taiwan ini merupakan kota
pelabuhan internasional terbesar di Taiwan. Di kota Kaoshiung ini gue memulai
perjalanan menjelajahi dan menyibak keindahan Taiwan.
Langkah kecil kaki
gue segera berjalan menapaki stasiun Zuoying mencari pintu exit untuk kemudian berpindah ke MRT yang memang berada dalam 1
atap dan menuju Stasiun induk Formosa Boulevard yang letaknya sangat dekat
dengan hostel tempat gue tinggal selama berada di Kaoshiung.
Walaupun petunjuk
arah yang dikirim via email oleh pihak hostel sudah di tangan, namun gue tetap
menemui sedikit kesulitan untuk menemukan pintu exit setibanya di Stasiun Formosa Boulevard seperti yang dimaksud
dalam email tersebut.
Dari kejauhan gue
melihat gerombolan mahasiswa dan mereka akan gue jadikan target sasaran untuk
bertanya. Sesaat gue dekati mereka dan
bertanya pintu exit tujuan gue,
dengan sigap mereka menjelaskan bahkan salah seorang dari mereka menawarkan gue
untuk ikut bersamanya yang kebetulan akan menuju pintu exit yang sama.
Ternyata untuk
menuju pintu exit tujuan gue harus
naik eskalator 1 lantai lagi dan berjalan dengan jarak lumayan jauh. Hm...pantesan gue
gak nemu-nemu pintu exit ini yang
memang ternyata sangat jauh sekali jaraknya. Kebayang luas dan besarnya Stasiun
Zuoying ini.
Cuaca hangat
meyambut kedatangan gue di Kaoshiung. Suhu di wilayah selatan seperti Kaoshiung
relatif lebih hangat ketimbang wilayah utara seperti Taipei. Namun yang membuat
gue terkesan adalah sambutan dan bantuan yang tulus dari warga Taiwan yang baru
saja membantu gue.
Hanya 5 menit berjalan
kaki dari Stasiun Formosa Boulevard gue tiba di Bravo Relax Hostel. Pemilik hostel langsung tahu kalo gue yang datang
dengan menyebut nama gue.
![]() |
Bravo Relax Hostel Kaoshiung |
Tarif hostel di sini
untuk kamar tipe dormitory dengan 8
tempat tidur adalah NT 399 (sekitar Rp 135,000) dan gue mendapat kamar di
lantai 3. Penghuni kamar hanya dihuni oleh 2 orang dari US dan 1 orang dari
Cina daratan saat gue datang jadi suasananya tidak terlalu ramai.
Dormitory Room |
Kamarnya sendiri
cukup nyaman dilengkapi dengan pendingin udara dan loker serta jaringan Wifi
yang sangat kencang. Juga disediakan komputer di ruang tamu sehingga tamu bebas
mengakses jaringan internet.
![]() |
Lobby Hostel |
Namun yang gue
kurang suka kamarnya mandinya sangat sempit sehingga berasa kurang nyaman dan
hanya tersedia 1 kamar mandi untuk setiap lantai.
Karena menyandang
sebagai kota terbesar no.2 di Taiwan, sarana transportasi di Kaoshiung pun sangat modern dengan tersedianya jaringan
MRT di dalam kota yang saat ini mempunyai 2 line yang membentang dari utara
(Gangshan South) ke Selatan (Siaogang) dan dari barat (Sizihwan) ke timur
(Daliao) dengan Formosa Boulevard sebagai stasiun induk yang menjadi interchange dari semua jalur.
Transportasi bis pun
tersedia dan kondisinya sangat bersih dan nyaman. Jadwal kedatangan bis di
setiap halte sangat tepat waktu dan durasi antar bis pun singkat sehingga kita
tidak perlu menunggu terlalu lama jika ketinggalan bis. Informasi nomor bis
yang melewati halte tersebut juga terpampang di halte dengan lengkap.
Sepeda juga
merupakan sarana transportasi populer di Kaoshiung. Banyak warga yang
memanfaatkannya dalam mobilitas sehari-hari. Bagi para wisatawan juga tersedia
fasilitas penyewaan sepeda di setiap stasiun MRT dan transaksinya menggunakan
kartu kredit karena di tempat penyewaan sepeda ini tidak ada penjaganya jadi
sifatnya melayani diri sendiri.
![]() |
Transportasi Sepeda yang Popular |
Lotus Pond
Tanpa buang-buang
waktu, gue langung menjelajahi Kaoshiung setelah mandi dan makan siang. Dari
Stasiun Formosa Boulevard gue menuju Stasiun Zuoying dan disambung dengan bis
no. R51 dan gue tiba di Dragon and Tiger
Pagodas yang letaknya di tengah-tengah danau Lotus.
Pagoda kembar dengan
warna yang cerah ini masing-masing
terdiri dari 7 tingkat dan letaknya berdampingan. Pintu masuk ke pagoda ini
dibuat dalam wujud harimau dan naga dan ada mitos yang mengatakan bahwa masuk
ke pagoda ini harus dari mulut naga dan keluar dari mulut harimau. Ini
melambangkan dapat mengembalikan lagi ketidakberuntungan dalam diri kita
menjadi keberuntungan. Mau percaya? Pilihan di tangan masing-masing.
![]() |
Dragon and Tiger Pagodas |
Di tengah danau
Lotus ini banyak tersebar bunga teratai yang nampak indah sehingga tempat ini
dikenal dengan nama Lotus Pond.
Tidak jauh dari Dragon and Tiger Pagodas, terdapat
pagoda lain yang ukurannya lebih kecil yaitu Spring and Autumn Pagodas yang dibangun sejak tahun 1953. Di antara
ke-2 pagoda ini dihubungkan dengan sebuah jembatan melengkung yang
menggambarkan seni arsitektur Oktagonal Cina. Indah sekali.....
![]() |
Spring and Autumn Pagodas |
Bergeser dari Spring and Autumn Pagodas dapat dijumpai Patung
raksasa Syuan Tian Emperor setinggi
72 m sedang menggenggam pedang sepanjang 38.5 M. Gue tidak banyak tahu sejarah
tentang Tokoh ini karena memang tidak ada penjelasan apa-apa di sekitar lokasi.
![]() |
Syuan Tian Emperor Statue |
Lokasi Lotus Pond ini dipakai warga lokal
sebagai tempat untuk bersantai dan gue
pun sangat menyukai tempat ini karena suasananya yang sangat tenang dan damai
serta cocok sebagai tempat untuk menyepi.
![]() |
Bermain Mahyong |
Love River
Sore hari saat yang
tepat untuk menyusuri dan menikmati Love
River yang membelah kota Kaoshiung sepanjang 12 KM. Love River ini mengingatkan gue akan Singapore River dan juga Melaka
River. Sama halnya Singapore dan Melaka, Love River inipun benar-benar dimanfaatkan sebagai objek wisata
yang populer. Lantas mengapa dinamakan Love
River? Gue sendiri tidak tahu, tapi asumsi gue mengatakan karena di
sepanjang sungai ini banyak dijumpai orang yang berpacaran sehingga (mungkin)
dinamakan Love River.
![]() |
Love River |
Di kedua sisi sungai
terdapat broadwalk buat pejalan kaki
yang ingin menikmati sungai dari tepi. Saat lampu di tepi sungai dan di
beberapa gedung sekitar sungai mulai dinyalakan yang menandai senja menjelang
merupakan saat yang tepat untuk merasakan aura Kota Kaoshiung.
![]() |
Love River Broadwalk |
Di tepi Love River dimanfaatkan sebagai night market dan terdapat beberapa outdoor cafe yang membuat tempat ini
benar-benar sangat asyik sebagai tempat nongkrong. Jika ingin menyusuri sungai
secara langsung tersedia fasilitas boat
yang berlayar di Love River dan
melewati Jhongheng Bridge dan menuju
Pelabuhan Kaoshiung. Harga tiket boat
ini sebesar NT 80 (sekitar Rp 27,000).
![]() |
Love River Cruise |
Saat gue tiba di
Kaoshiung bertepatan dengan festival lampion sehingga banyak dipamerkan
lampion-lampion dengan berbagai ukuran dan bentuk di night market. Lampion-lampion ini dijual dan sangat cantik dan
indah sekali.
![]() |
Love River at the Night |
Fo Guang Shan
Monastery
Jika berkunjung ke
Kaoshiung wajib hukumnya mendatangi tempat ini menurut gue. Karena di sinilah
kita dapat melihat langsung kehidupan para biarawan dan biarawati Budha dalam
keseharian mereka. Letak Fo Guang Shan
Monastery sendiri agak sedikit di luar kota Kaoshiung.
Dari Formosa
Boulevard gue menuju Kaoshiung Main
Station MRT dan berpindah ke terminal bus yang letaknya di samping Stasiun
MRT. Terdapat bus yang langsung menuju Fo Guang Shan yaitu bus no. 8010/8011
dengan harga tiket sebesar NT 91 (sekitar Rp 31,000) dan perjalanan lebih kurang
1 jam menuju ke sana.
![]() |
Bus to Fo Guang Shan Monastery |
Fo Guang Shan Monastery merupakan kompleks yang sangat luas yang di dalamnya
terdapat tempat pendidikan bagi para biksu dan biksuni Budha, asrama siswa,
kuil, museum, komplek pemakaman serta patung Budha raksasa dan taman-taman yang
asri. Tidak dipungut biaya alias gratis untuk masuk ke komplek Fo Guang Shan
ini.
![]() |
Gerbang Masuk Fo Guang Shan Monastery |
Suasana di Fo Guang
Shan ini benar benar senyap dan damai. Hanya keheningan yang mewarnai suasana
di dalamnya karena setiap pengunjung disarankan untuk tidak membuat gaduh dan
suasana berisik. Disediakan kendaraan kecil secara gratis untuk berkeliling
komplek namun gue memilih untuk berjalan kaki agar dapat menikmati setiap spot
yang ada dengan puas.
![]() |
Mobil Mini Berkeliling Area FGS. Mau naik?? |
Di Main Shrine gue sempat
berbincang-bincang dan berfoto dengan seorang biksuni Budha asal Malaysia yang
sedang menempuh pendidikan di sana. Ketika tahu gue berasal dari Indonesia
beliau senang sekali dan akhirnya percakapan kami diselingi antara Bahasa
Inggris dan Bahasa Melayu. Gue juga sempat ditawarkan untuk memukul lonceng
raksasa yang terletak di depan Main
Shrine sembari mengucapkan 3 wish
di dalam hati sebelum memukul lonceng tersebut.
![]() |
Main Shrine |
![]() |
Bersama Biksuni Asal Malaysia |
Do good things,
speak good words, think good thought , 3 baris kata-kata
bijak yang ditulis pada spanduk yang banyak tersebar di sekitar komplek
benar-benar memberi kesejukan dan makna yang mendalam bagi setiap pengunjung.
![]() |
Kata-kata Bijak itu |
Dari Fo Guang Shan Monastery ini rencananya
gue akan melanjutkan perjalanan ke kota Tainan sebuah kota kuno dan pernah
menjadi ibukota pada masa kekaisaran Cina dahulu. Namun sayangnya gue tidak
punya cukup banyak waktu untuk ke sana karena jaraknya yang lumayan jauh dari
Fo Guang Shan dan tidak ada transportasi langsung dari Fo Guang Shan. Akhirnya
perjalanan ke Tainan gue batalkan.
Former British
Consulate Residence at Dagou
Tidak selamanya itinerary yang biasanya telah gue
siapkan sebelum berangkat gue jalani sepenuhnya tergantung dengan kondisi di
tempat tujuan. Batal ke Tainan, perjalanan gue alihkan ke Former British Consulate Residence at Dagou yang tidak sengaja gue
temukan di brosur pariwisata Kaoshiung.
Sebelumnya gue
sempatkan dulu untuk mampir ke Kaoshiung
Rose Basilica yang terletak di Wufu 3rd Road. Didirikan tahun 1851 dan
merupakan katedral yang pertama dan terbesar di Taiwan, juga merupakan salah
satu dari 3 basilika utama di Asia. Bentuk bangunan basilika ini
mengintegrasikan gaya arsitektur Roman & Gothic. Mumpung tidak ada kegiatan
ibadah, gue bisa dengan leluasa masuk hingga ke dalam untuk menikmati keindahan
bangunan basilika ini.
Tidak lama gue
berada di basilika ini dan langsung meluncur menuju Stasiun MRT Sizihwan. Dan
dalam hitungan menit gue tiba di Stasiun MRT Sizihwan. Namun setibanya di
Stasiun MRT tersebut yang merupakan stasiun MRT terdekat dengan lokasi yang
dituju, gue agak kesulitan untuk menentukan exit
yang harus diambil setelah keluar dari MRT karena tidak dijelaskan secara jelas
di brosur tersebut.
Sempat celingak
celinguk sesaat dan akhirnya gue berpapasan dengan 2 orang karyawan operator
MRT laki-laki dan perempuan. Mereka menggiring gue ke peta yang terdapat di
dinding dan menjelaskan dengan sabar lokasi yang akan gue tuju. Ternyata dari
Stasiun Sizihwan harus disambung lagi dengan bus mikro.
Dasar gue yang belum
paham juga dengan penjelasan mereka, tanpa diduga mereka (ber 2) mengantarkan
gue hingga ke pintu keluar sampai ke halte bus di tepi jalan raya sembari
memberitahukan no bus yang harus gue naiki. Ah..kembali hari itu hati gue
tersentuh dengan ketulusan warga Taiwan untuk membantu gue. Mereka benar-benar
totalitas dalam memberikan bantuan dan tak segan-segan untuk membantu secara
maksimal serta memastikan kalo gue benar-benar sudah paham.
Sembari menunggu bus
datang gue meminta bantuan sepasang remaja Taiwan yang juga sedang menunggu bus
di halte yang sama untuk memgambil foto buat gue. Nah...gara-gara mengambil
foto ini akhirnya mereka ketinggalan bus yang tanpa disadari telah tiba saat
sang lelaki tersebut memfoto gue. Walaupun telah berlari-lari dan setengah
berteriak mereka tetap ketinggalan bus yang mereka tunggu. Duh....maaf yah bro :)
Orange Bus no.01
tiba tepat waktu dan setelah memasukkan uang sebesar NT 12 (sekitar Rp 4,000)
di kotak samping sopir gue mengambil posisi duduk dekat pintu keluar. Asyiknya
di semua bus di Taiwan tersedia papan
informasi yang akan memberitahukan setiap halte/lokasi yang dilalui (mirip
dengan bus TransJakarta gitu deh). Jika lokasi yang akan kita tuju sudah
diumumkan, tinggal pencet bel yang tersedia dan bus akan berhenti setelah tiba
di halte tujuan. Dijamin tidak bakal kesasar...
![]() |
Rute dan Jadwal Bus 01 |
Former British Consulate Residence at Dagou ini letaknya di atas bukit dan pengunjung harus
menaiki tangga yang telah disediakan. Persis di depan bukit ini terbentang laut
lepas teluk Sizihwan dengan pemandangan yang sangat indah. Dan di sampingnya
terletak National Sun Yat Sen University
(NSYSU) salah satu universitas bergengsi di Taiwan.
Harga tiket masuk
cukup murah sebesar NT 30 (sekitar Rp 10,200). Bangunan yang berwarna orange
ini adalah bangunan bekas tempat tinggal Konsul Jenderal Inggris di Taiwan yang dibangun tahun 1865.
Selain menikmati atmosfer arsitektur bangunan kuno pengunjung juga dapat masuk
ke dalam bangunan berlantai 2 ini dan tersedia informasi berkenaan dengan
gedung ini.
Menikmati
pemandangan laut lepas dari ketinggian bukit benar-benar memberikan sensasi
yang luar biasa apalagi sambil menikmati secangkir kopi atau es krim yang
tersedia di cafe di komplek bangunan kuno ini. Hm....rasanya tak rela untuk segera
beranjak dari tempat ini yang menjadi salah satu tempat favorit gue di Taiwan.
Cijin Island
Tidak sah rasanya ke
Kaoshiung kalau tidak mampir ke Cijin
Island, sebuah pulau indah yang terletak di sebelah barat kota Kaoshiung.
Pagi yang cerah
tanggal 22 Feb 2013 gue langkahkan kaki menuju Stasiun MRT Sizihwan. Suasana
pagi itu masih sepi dan saat yang tepat untuk menikmati suasana kota. Dari
Stasiun Sizihwan gue berjalan kaki selama kurang lebih 10 menit menuju Dermaga
ferry Gushan, pintu penyeberangan menuju Cijin
Island.
Pagi yang sejuk
sangat pas bila diimbangi dengan sarapan pagi yang hangat2. Sepanjang jalan menuju Dermaga Gushan
terdapat beberapa kedai yang telah menggelar makanan sarapan pagi. Gue melirik
ke salah satu kedai yang telah siap menyajikan sarapan pagi dan gue memilih
menu bihun dengan kuah kental dengan campuran fish cake. Harganya NT 50 (Rp
17,000) dengan rasa yang lezat. Sluuuurp
Dermaga Gushan pagi
itu pun masih sepi. Belum banyak penumpang yang menyeberang pagi itu. Sesaat
gue berjalan-jalan di seputar dermaga, meyaksikan simbol kemewahan warga
Kaoshiung dengan jejeran yacht yang
diparkir sepanjang dermaga.
Dengan hanya
membayar NT 15 (Rp 5,100) kita bisa menyeberang sampai ke Cijin Island dan waktu tempuhnya hanya 10 menit. Sepanjang
perjalanan menuju pulau, disuguhkan pemandangan Pelabuhan Kaoshiung yang sangat
sibuk.
Walau hanya 10
menit, namun gue sangat menikmati percakapan dengan seorang bapak warga lokal
dan entah mendapat intuisi dari mana beliau bisa menebak kalau gue berasal dari
Indonesia. Ah baru kali kali dalam sejarah traveling,
warga lokal bisa menebak dari mana gue berasal.
Sayang gue hanya
punya waktu setengah hari untuk menjelajahi pulau ini yang tentunya tidak cukup
karena tengah hari gue harus segera bergerak kembali menuju Taipei. Tidak
terdapat angkutan umum di pulau ini, namun turis dapat menyewa sepeda untuk
berkeliling pulau.
Namun gue memilih
untuk berjalan kaki menyusuri setiap jengkal tanah, blusukan keluar masuk pasar
dan tentunya mampir ke beberapa spot menarik yang ada di pulau ini. Bentuk Cijin Island sendiri memanjang dari
barat ke timur.
Tentunya jangan
dilewatkan untuk menikmati Pantai Cijin yang indah dengan pasirnya yang halus.
Karena gue datang di pagi hari suasana pantai masih sepi sehingga saat yang pas
untuk menikmati pantai ini.
Menyusuri bibir
pantai dan gue tiba disebuah bukit yang letaknya di ujung pantai. Gue merasa
tertantang untuk mendaki bukit ini menuju mercusuar (Kaoshiung Lighthouse) yang terdapat di puncak bukit. Hm....setelah
mendaki lebih kurang 20 menit dan diselingi dengan ngos-ngosan akhirnya gue
tiba di puncak bukit lokasi dimana mercusuar tersebut berada.
Luar biasa indahnya
pemandangan Selat Taiwan yang disaksikan dari atas bukit. Namun sayangnya
pengunjung tidak dapat naik sampai ke atas mercusuar karena memang ditutup buat
umum dan pengunjung hanya diperkenankan sampai di bawah kaki mercusuar saja.
Tidak jauh dari
bukit, terdapat Cihou Fort sebuah
benteng yang dibangun sejak tahun 1720. Walaupun telah berusia ratusan tahun
namun benteng ini masih berdiri tegak dan sisa-sisa reruntuhannya masih dapat
disaksikan hingga saat ini.
Cijin Star Tunnel yang membelah Gunung Cihou berujung di laut lepas juga salah satu spot
yang tak kalah menariknya di Cijin Island
ini. Di dalam terowongan ini dapat mengeluarkan cahaya sesuai dengan bentuk
lukisan dan tulisan yang dipahat pada langit-langit goa.
Cijin Island
juga merupakan tempat yang hits untuk menikmati kuliner bertema sea food. Tak heran wisawatan
berbondong-bondong datang ke pulau ini untuk menikmati hidangan sea foodnya.
Lepas dari dermaga penyeberangan,
deretan kios dan restoran yang menjual berbagai hidangan laut berjejer di
sepanjang jalan. Pengunjung dapat mengecek harga dulu dengan membandingkan satu
kios dengan kios yang lain.
Gue pun tak mau
melewatkan kesempatan untuk menikmati kuliner sea food di Cijin Island
ini. Namun gue sempat bingung restoran mana yang akan didatangi karena begitu
banyak restoran yang ada. Ok, gue pake naluri dimana restoran yang banyak
pengunjungnya ke situ akan gue datangi.
Di depan restoran
berbagai jenis sea food didisplay dan terpampang harga
masing-masing item. Hm...otak gue langsung bekerja mengkonversi dalam mata uang
rupiah dan.....cukup mahal harganya untuk makan seorang diri. But....the show must go on. Gue disambut
seorang pelayan yang langsung bertanya gue minta dilayani menggunakan bahasa
apa? Hm...pelayanan yang cukup bagus kepada wisatawan.
![]() |
Dipilih....dipilih.... |
Pilihan gue jatuh
pada ikan gindara, cumi-cumi dan sayuran hijau (entah apa namanya). Nasi boleh
ambil sepuasnya dan gratis...tis...Ketika pelayan menanyakan gue berasal dari
mana dan gue jawab berasal dari Indonesia, dia langsung mengenalkan gue dengan
pelayan lain yang juga berasal dari Indonesia. Namanya Ci Amei berasal dari
Batam dan sudah bekerja di Taiwan selama 10 tahun. Tak heran karena banyak WNI
yang bekerja di Taiwan di berbagai sektor.
Tidak butuh waktu
lama untuk menunggu pesanan gue datang karena pelayanan restoran ini cukup
bagus. Saatnya gue berjuang untuk menghabiskan semua pesanan seorang diri
karena porsi makanan ini lumayan banyak. Di akhir ritual makanan disediakan
buah jeruk lokal yang kata Ci Amei jeruk termanis di Taiwan. Berapa harga yang
gue bayar untuk makan siang kali ini? NT 300 (sekitar Rp 102,000).....hening
sesaat saat duit digelontorkan dan berpindah ke tangan sang kasir.
Gue buru-buru
meninggalkan Cijin Island untuk
segera kembali ke hostel mengambil backpack
dan melanjutkan perjalanan kembali ke Taipei. Sulit untuk melupakan
kehangatan kota Kaoshiung dan gue akan selalu kangen dengan kehangatan dan
persahabatan warganya......
serasa berada disana menikmati pemandangan2nya..terimakasih ya :)
ReplyDeleteTerima kasih juga sudah berkunjung. Salam...
DeleteThis comment has been removed by a blog administrator.
DeleteThis comment has been removed by a blog administrator.
ReplyDelete