Berbicara tentang kuliner di Sri Lanka rasanya tidak jauh berbeda dengan kuliner India yang sarat dengan rempah dan kari yang begitu “menyengat”. Kebetulan gue sendiri bukan termasuk penyuka makanan India sehingga membuat gue agak sedikit “mati gaya” ketika berhadapan dengan kuliner di Sri Lanka. Tapi bukan karena “mati gaya” akan kuliner Sri Lanka sehingga membuat gue harus mati kelaparan selama berada di sana. Bagaimanapun gue harus tetap makan!
Kebingungan melanda sejak di hari pertama tiba di Colombo
ketika sedang menjelajah Pettah Market.
Saat jam makan siang tiba, itupun sudah dalam hitungan terlambat karena
sebelumnya gue berkunjung dulu ke Gangaramaya
Temple, gue berkutat mengitari Pettah
Market untuk mencari tempat makan siang yang cocok. Selama kurang lebih 30
menit gue berjalan terlunta kesana kemari akhirnya gue menyerah dengan masuk ke
salah satu restoran yang menyajikan makanan lokal Sri Lanka.
Ternyata restoran yang gue datangi adalah restoran yang
menyediakan masakan vegetarian. Mungkin karena mayoritas masyarakat Sri Lanka
penganut Budha sehingga banyak dari mereka yang vegetarian sehingga banyak
tersebar restoran khusus vegetarian. Agak sedikit bingung dengan menu yang akan
dipesan dan akhirnya gue memilih nasi campur vegetarian ala Sri Lanka dan setelah
dihidangkan membuat gue agak sedikit “shock”
karena porsinya yang sangat banyak dan disajikan pada sebuah piring yang
menurut gue mirip panci “mini” karena
begitu besar ukurannya.
Menu Vegetarian |
Jangan ditanya tentang isi nasi campur tersebut karena dari 4
item yang berbaur dalam satu piring hanya 2 item yang gue kenal yaitu sejenis
kacang-kacangan yang dimasak dengan sambal dan wortel yang dimasak dengan kari
yang begitu aduhai menyengatnya. Sedangkan 2 item yang lain gue tidak bisa
untuk mengidentifikasinya. Mau bertanya kepada pelayan restoran mereka begitu
sibuk hilir mudik melayani pelanggan yang lain sehingga tidak ada kesempatan
bagi gue untuk bertanya.
Akhirnya hanya 1/2 porsi yang bisa gue habiskan karena gue
tidak sanggup untuk menghabiskan seluruhnya yang menurut gue porsi tersebut
bisa disantap untuk 2 orang. Soal rasa? Entahlah......yang pasti gue berjuang
keras untuk menelan makanan tersebut untuk masuk ke dalam peru. Gue harus
membayar Rs 220 (Rp 16,500) untuk seporsi makanan tersebut beserta soft drink.
Selesai makan jangan harap di meja makan tersedia tisu (untuk
membersihkan tangan dan mulut setelah makan) seperti yang biasa kita temukan
saat makan di Jakarta dari kelas warteg sampai restoran mewah. Di Sri Lanka
hampir di semua tempat makan hanya menyediakan kertas dalam ukuran kecil yang
ditempatkan pada sebuah wadah yang dipergunakan untuk membersikan tangan dan
mulut setelah makan. Bahkan kertas yang disediakan ada yang berupa kertas
koran! Dan gue melirik ke pengunjung lain yang selesai makan mereka benar-benar
membersihkan mulut mereka dengan kertas koran tersebut! Hm......tidak salah
memang antisipasi gue dalam setiap traveling
selalu menyiapkan tisu di tas kecil yang
gue bawa.
![]() |
Tisu diganti dengan kertas koran |
Saat berada di Kandy ketika mencari makan siang mata gue
tertuju pada restoran waralaba KFC di Jalan
Dalada Veediya. Gue penasaran untuk mencoba menu yang ada di KFC ini yang
biasanya juga menawarkan menu lokal
kepada pelanggannya di setiap negara. Begitu masuk dalam antrian segera gue
menebarkan pandangan pada papan menu. Ah.....gue menemukan menu lokal berupa
nasi briyani ayam (biasanya nasi briyani identik dengan daging kambing). Karena
penasaran akhirnya gue memutuskan
memilih nasi briyani ayam (dalam
ukuran kecil karena trauma sebelumnya untuk urusan porsi makanan), french fries dan juice mangga dengan harga total Rs 360 (Rp
27,000).
![]() |
Menu lokal KFC yang eksotik (Nasi Buriyani) |
Ternyata nasi briyani ayam ini bisa diterima oleh lidah gue.
Perpaduan ayam yang crispy dan nasi
briyani yang gurih dengan karinya yang
tidak jauh berbeda dengan rasa kari di restoran Aceh di Jakarta membuat gue langsung doyan dengan
menu ini. Apalagi tenggorokan yang seret setelah makan diguyur dengan juice
mangga yang begitu manis rasanya membuat makan siang gue kali ini penuh
sensasi.
Kenikmatan makan siang gagal gue ulangi pada makan malam di
Kandy. Setelah kunjungan ke Sacred Temple
of the Tooth Relic, saatnya mencari makan malam. Dan ketika melewati sebuah
restoran yang letaknya di seberang kuil, gue penasaran untuk mencobanya karena
di daftar menu terdapat menu nasi goreng. Seperti apa sih rasa menu nasi goreng
di Sri Lanka? Begitu yang ada di pikiran gue. Tanpa ragu segera gue masuk ke
restoran yang merupakan milik dari Hotel
Queen’s yang letaknya
berdampingan dan memesan langsung fish
fried rice alias nasi goreng dengan daging ikan.
Setelah pesanan datang dan melihat dari penampakannya
sepertinya menggiurkan. Rasa nasi gorengnya lumayan enak tapi daging ikannya
(gue tidak tahu persis ikan jenis apa, sepetinya mirip dengan ikan kakap) yang
berupa fillet astaga kerasnya minta
ampun pada gigitan pertama! Sulit buat
gue untuk menghabiskan daging ikan yang keras dan alot ini padahal
harganya tergolong lumayan mahal yaitu
Rs 365 (Rp 27,300) dengan sebotol air mineral. Hm......makan malam ini berakhir
dengan kekecewaan.
![]() |
Nasi Goreng dengan Fish Fillet |
Sepertinya gue sudah terbiasa dengan menu nasi goreng di Sri
Lanka karena menjadi pilihan terakhir di saat gue bingung untuk menentukan
makanan apa yang akan gue santap. Saat di kota
Dambulla, kembali gue memilih menu nasi goreng sebagai teman makan siang
gue di salah satu kedai makan di jalan raya Dambulla. Kali ini nasi goreng yang
gue pilih dipadu dengan campuran daging ayam.
Kembali mata gue dibuat terbelalak dengan porsi yang
dihidangkan dalam ukuran super jumbo. Gue tidak habis pikir mengapa restoran
dan tempat makan di Sri Lanka selalu menghidangkan dalam ukuran jumbo pada
setiap porsi yang dihidangkan. Apakah memang penduduk Sri Lanka memang terbiasa
makan dengan porsi sebesar itu. Ah entahlah, membayangnya saja sudah membuat
perut ini terasa kenyang apalagi saat gue harus menyantap beneran.
Nasi Goreng Ayam dengan Ukuran Jumbo |
Saat gue makan beberapa orang pelayan duduk bersama dalam
satu meja makan dengan gue sambil bertanya-tanya tentang gue. Mungkin mereka
heran ada orang asing yang makan di tempat mereka dan seperti biasa mereka
menduga gue berasal dari salah satu negara di Asia Timur.
Rasa dari nasi goreng
tersebut tidak terlalu mengecewakan dan gue sangat menikmatinya. Sempat mencoba
untuk menghabisinya namun sayang perut ini menolak untuk menampung. Seporsi
nasi goreng ukuran jumbo + sebotol Coca Cola dikenakan biaya Rs 240 (Rp 18,000).
Setelah 2 hari berturut-turut hanya merasakan nasi goreng,
akhirnya gue merasakan menu yang berbeda di Negombo yang gue temukan di Kedai
Nayomi’s. Kedai ini selain menyediakan masakan ala restoran juga menjual pastry beserta pernak perniknya. Dua
hari tidak merasakan sayur-sayuran membuat perut ini langsung nagih. Tanpa ragu
gue langsung memesan menu cap cay ala Sri Lanka yang disebut vegi cowfis + nasi putih ( yang setelah
dihidangkan ternyata nasinya dicampur ).
Saat melakukan pesanan gue meminta dibuatkan ½ porsi saja
karena gue sudah bisa menebak pasti porsi super jumbo kembali akan dihidangkan
namun gue tetap akan membayar dengan porsi normal. Tetapi anehnya permintaan
gue ditolak oleh pelayan restoran yang bersikeras menghidangkan gue dengan
porsi normal. Suasana mendadak hening karena gue tidak bisa berkomentar lagi.
Baiklah, dengan perlahan namun meyakinkan gue mencoba untuk
menghabiskan hidangan yang sudah tersodor di hadapan gue. Namun gue tidak bisa
memungkiri kalau gue tidak sanggup untuk menghabiskannya karena fakta porsi
tersebut memang untuk 2 orang seperti yang gue saksikan di meja sebelah.
Setelah 2 hari tidak mengkonsumsi sayur-sayuran rasanya masakan ini enak sekali
dan dengan paduan beberapa sayuran yang dapat kita jumpai di Indonesia.
Akh.....Nemu Sayur Juga Akhirnya |
Sebagai penutup gue memesan fruit salad karena terinspirasi dari meja sebelah padahal
sebelumnya gue telah memesan air mineral. Total harga makanan dan minuman yang
gue bayar sebesar Rs 455 ( Rp 34,100 ), harga yang cukup murah menurut gue bila
dilihat dari item dan porsi yang gue pesan.
Fruit Salad yang Segar |
Sepertinya sudah berlaku umum dan menjadi aturan tidak
tertulis kalau harga-harga entah itu di restoran, cafe, toko dll di kawasan turis harganya relatif lebih mahal bila
dibandingkan dengan di luar kawasan turis. Hal ini juga berlaku di kawasan Lewis Place yang merupakan kawasan
turis populer di Negombo. Saat malam
hari, gue berjalan menyusuri sepanjang Lewis
Place untuk mencari makan malam yang harganya cukup “bersahabat” dengan
kantong backpacker. Namun setelah
hampir 30 menit gue berjalan sambil melihat kiri kanan jalan mencari tempat
makan yang kira-kira terjangkau ternyata sangat susah untuk menemukannya.
Sebagian besar tempat makan yang gue temui berupa cafe dan restoran yang cukup fancy bila dilihat dari tampilan tempat
serta daftar menu serta harga yang dipajang di dekat pintu masuk. Gue
mengernyitkan dahi sambil berlalu dari tempat tersebut dan mencoba melangkah ke
tempat lain sambil berharap menemukan tempat yang cocok dengan keinginan gue.
Karena kaki sudah lelah untuk berjalan lebih jauh lagi akhirnya gue masuk ke Peacock Cafe dan memesan Chinese food dengan judul sea food
noodle.
Ternyata setelah pesanan datang gue amati bentuknya mie nya
kecil-kecil dengan topping pelengkap
sesuai dengan judulnya beberapa sea food
seperti udang dan cumi, namun setelah menyentuh lidah, gue merasakan sepertinya
terdapat campuran keju pada mie tersebut jadi hidangan ini akhirnya mengarah
kepada spaghetti. Ah entahlah jenis
makanan apa ini yang penting bisa membuat gue kenyang dan rasanyapun tidak
terlalu mengecewakan menurut gue. Kembali
Rs 500 ( Rp 37,500 ) melayang dari dompet gue dengan minuman pelengkap berupa
Coca Cola.
Sea Food Noodle |
Ternyata urusan perut juga bisa bikin pusing kepala di Sri Lanka buat yang tidak bisa beradaptasi dengan makanan lokal .....
Wah...harus nyoba nih nasi briyani nya KFC di Srilanka :))
ReplyDelete3 jam menjelang berbuka...dan nggak sengaja liat nasi campur srilanka. Terbitlah liur.
ReplyDeleteNice post!
Iya San, kudu nyobain Nasi Briyaninya di KFC Sri Lanka. Maknyooss dah..!!
ReplyDeleteHahaha Thanks Dimas dah melipir tapi tidak bermaksud untuk menggoda selera makan di bulan puasa ini.
ReplyDelete*manggut2* ngeliatin post tentang India ini. Ah, jadi tidak sabar menanti Januari.
ReplyDeleteDan porsi jumbonya menggelitik sanubari hati banget kakak mendeksripsikannya XD ahuahua.
INDIAAAA!
Alo salam kenal
ReplyDeletemenimbulkan pertanyaan dlm benak saya..... dgn porsi nasi2 mereka yg beda ukuran dgn org indo, knp mrk tidak import beras ya? sedangkan indo hrs import beras.
Trims utk info nya....sgt berguna nih saat berkunjung kesana..
ReplyDeleteHai..terima kasih juga sudah mampir. Semoga bermanfaat infonya.
Deletebetul pengalaman waktu di Sri lanka saya milih makan buah2an ja...prnah makan d Pizza hut Negombo brhrap tu jd makanan pnyelamat tp yg sya dpati adalh Pizza curry dan pilihan Pizzanya hnya 3 atau 4 mcam...KFC Negombo jg bgtu g kayak d ngra kta
ReplyDeletehahahaa rupanya punya pengalaman yang sama yah mba :)
Deletethx banget buat informasinya, minimal mau berangkat tgl 16 minggu depan sudah ada planning mau makan apa soalnya untuk urusan makanan saya juga sedikit susah
ReplyDeleteMaaf pak baru bisa dibalas sekarang. Semoga tidak menemui kendala soal makanan selama di sana yah.
DeleteThis comment has been removed by a blog administrator.
ReplyDelete