23 Mei 2012 Pukul
06.00 pagi gue sudah check out dari
penginapan untuk melanjutkan perjalanan ke kota Kandy dengan menggunakan moda
transportasi kereta api. Sengaja gue memilih kereta api untuk merasakan
pengalaman naik kereta api di negara ini. Sebenarnya gue ingin menggunakan bis
untuk mencapai Fort Station pada pagi
itu dan malam sebelumnya sudah mendapat informasi dari petugas hotel nomor bis
yang melewati stasiun kereta api Fort.
Namun setelah
menunggu beberapa saat bis yang ditunggu belum muncul juga akhirnya gue
putuskan untuk naik tuktuk yang menggunakan argo karena khawatir akan tiba
terlambat di stasiun dan akan beresiko ketinggalan kereta. Tiba di Stasiun
Fort pukul 06.40 dan argo tuktuk berhenti pada harga Rs 450 (Rp 33,750). Ketika
gue menyerahkan selembar uang Rs 500 sopir tuktuk berkata tidak ada kembalian
dan terpaksa gue merelakan untuk tidak menerima kembalian Rs 50. Ah alasan saja
pikirku kepada sang sopir tuktuk yang memang tidak mau memberikan kembalian.
Stasiun kereta api Fort Colombo |
Gue bergegas masuk
ke peron stasiun dan menyaksikan pagi itu sudah ramai oleh penumpang kereta api
yang akan berangkat ke berbagai jurusan di wilayah Sri Lanka. Setelah bertanya
kepada petugas ternyata kereta tujuan Kandy berada pada Platform 2 dan gue diantar hingga ke gerbong sesuai dengan tiket
yang telah gue beli sehari sebelumnya dengan harga Rs 360 (Rp 27,000) di kelas
1 yang juga disebut Observation Class
karena menempati kereta bagian paling
depan.
![]() |
Suasana Stasiun Colombo |
Memasuki dalam kereta
jangan dibayangkan kereta ini adalah kereta mewah namun kereta yang sangat
sederhana. Walaupun dengan embel-embel kelas 1 namun kereta ini tidak terdapat
pendingin udara alias AC namun hanya disediakan kipas angin. Kapasitas tempat
duduk di kelas ini pun tidak banyak
yaitu hanya sekitar 30 tempat
duduk. Kebanyakan kereta di Sri Lanka tidak terdapat AC dan hanya menggunakan
kipas angin saja kecuali untuk beberapa kereta dengan rute tertentu yang
menggunakan AC dan harga tiketnya bisa mencapai hampir 3x lipat dari kereta
biasa.
![]() |
Kereta Kelas 1 Tanpa AC |
Kereta berangkat
tepat waktu pukul 7 pagi dan gue langsung mengeluarkan sarapan pagi berupa roti
sandwich yang telah disiapkan oleh petugas hotel sebelum gue check out. Yang unik dari kereta ini adalah sandaran
tempat duduknya yang tidak bisa digeser ke depan atau ke belakang untuk
menyesuaikan dengan arah laju kereta seperti layaknya kereta di Indonesia atau
dimanapun. Alhasil selama 2.5 jam penumpang duduk dengan kondisi kereta
berjalan mundur menuju Kandy. Hm....seperti naik kereta-keretaan saja hehehe.
Suara lengkingan
kereta membangunkanku dari tidur dan ternyata kereta telah tiba di kota Kandy
pukul 09.35. Stasiun kereta Kandy tergolong kecil dan sangat sederhana
dibandingkan dengan Stasiun Colombo. Di pintu keluar karcis penumpang diminta
kembali oleh petugas seperti halnya di Jakarta. Namun gue pura-pura tidak tahu
dan terus nyelonong saja keluar karena
tiket tersebut akan gue simpan sebagai kenang-kenangan hehehehe.
Stasiun Kandy |
Gue segera
menghampiri tuktuk yang kebetulan sedang mangkal di pinggir jalan. Tawar menawar pun
berlangsung sengit dan akhirnya kami sepakat di harga Rs 200 (Rp 15rb) untuk
mengantarkan gue ke tempat penginapan di Kandy
City Mission yang berlokasi di 125, DS Sennanayake Veediya yang merupakan
jalan utama di kota Kandy. Untuk kesekian kalinya gue dikira berasal dari
Jepang (hadeuuhh) oleh sopir tuktuk dan tak lupa beliau juga menawarkan gue
untuk melakukan city tour di Kota
Kandy dengan tuktuknya yang gue tolak dengan halus.
Kandy City Mission ini merupakan penginapan
sederhana milik yayasan Kristen. Untuk melakukan pemesanan kamar di penginapan
ini cukup dilakukan melalui komunikasi via email dengan pengurusnya tanpa
adanya uang muka atau jaminan. Harga kamar di penginapan di sini Rs 900 (Rp 67,500)
berupa kamar private dengan 2 tempat
tidur, kamar mandi dalam dan dilengkapi
dengan kipas angin dan letaknya di lantai 3. Kamarnya sendiri cukup bersih dan
untuk kenyamanan tergantung bagaimana kita menilainya dengan membandingkan
harga yang dibayar hehehe.
Tampak Depan Penginapan |
Penampalan Kamar |
Kota Kandy terletak
di Sri Lanka bagian Tengah dan merupakan bekas ibukota kerajaan terakhir di Sri
Lanka. Kota ini sedikit lebih kecil dari Colombo namun denyut nadi kota dengan
segala aktivitasnya sangat terasa di sini. Entah mengapa sejak tiba di Stasiun
Kandy dan memasuki kota, gue langsung suka dan jatuh cinta dengan kota ini. Gue
sendiri tidak tahu spirit apa yang
dihembuskan oleh kota ini sehingga membuat gue terpikat. Sebuah kota yang bersahaja.
Setelah meletakkan
ransel di kamar gue langsung menjelajahi Kota Kandy. Tempat penginapan gue
letaknya di pusat kota dan sangat strategis. Karena kotanya tidak terlalu besar
sehingga memungkinkan gue untuk menjelajahinya dengan berjalan kaki. Namun
karena landskap kotanya yang naik turun
membuat gue cepat merasa lelah.
Wajah Kota Kandy |
Hanya berjarak lebih
kurang 100 M dari penginapan, gue tiba di Kandy
Lake yang merupakan danau buatan yang dibangun sejak 1807. Danau ini
terletak di pusat kota Kandy dan mengingatkanku pada Hoan Kiem Lake di Hanoi, Vietnam. Namun dari segi ukuran, Hoan Kiem Lake lebih besar dari Kandy Lake. Di sekitar danau inilah warga Kandy datang berkumpul untuk melepaskan
penat dan bersantai.
Di Depan Kandy Lake |
Tepat di samping Kandy Lake terdapat Sacred Temple of The Tooth Relic (Sri Dalada Maligawa – dalam
bahasa Sinhala). Kuil ini dinyatakan sebagai World Heritage Site oleh UNESCO tahun 1988. Sengaja gue tidak masuk
dulu ke kuil ini karena gue berencana akan kembali lagi ke kuil ini sore nanti
pukul 6 karena tepat pukul 6.30 setiap hari akan ada upacara ritual di dalam
kuil dan gue tidak mau melewatkan moment ini.
Sejenak gue
bersantai di tepi danau sambil sesekali meminta bantuan warga yang kebetulan
melintas untuk mengambil foto buat gue.
Gini nih resiko kalau melakukan solo
traveling saat mau sedikit narsis terpaksa memohon belas kasihan dari
orang, namun gue menganggap itu bagian dari seni melakukan solo
traveling.
Gue mampir sebentar
ke kantor Sri Lanka Telecom di Jalan
Dalada Veediya untuk menanyakan perihal layanan blacberry gue yang belum berfungsi. Setelah berkonsultasi dengan
petugas Customer Service dan blackberry gue dicek, tetap tidak dapat
berfungsi juga. Ah...ya sudahlah terima saja nasib blackberry tidak bisa berfungsi di sana.
Setelah bertanya-tanya
kepada warga lokal, akhirnya gue sampai di terminal Kandy yang ternyata
jaraknya sangat dekat dari kantor Sri
Lanka Telecom. Terminal ini ditandai dengan sebuah tugu yang terdapat jam
pada bagian atasnya di tengah kota yang merupakan jantung kota Kandy. Tujuan
gue kali ini yaitu Royal Botanical Garden
(RBG) yang terletak di daerah Peradeniya berjarak sekitar 5 KM dari pusat kota
yang ditempuh sekitar 20 menit. Tarif bus menuju ke sana sebesar Rs 16 (Rp
1,200).
Clock Tower |
Royal Botanical Garden ini mirip dengan Kebun Raya Bogor (KRB) namun dengan
harga tiket masuk sebesar Rs 1,100 (Rp 82,500) tergolong mahal bila
dibandingkan dengan Kebun Raya Bogor yang hanya berkisar Rp 10,000. Memang
harga tiket masuk ke berbagai objek wisata di Sri Lanka buat turis asing
tergolong (sangat) mahal apalagi untuk ukuran turis backpacker seperti gue hehehehe.
RBG didirikan
sekitar tahun 1750, bandingkan dengan KRB yang didirikan tahun 1817 usia RBG
lebih tua. Namun KRB ukurannya jauh lebih luas yaitu 87 ha sedangkan RBG luasnya “hanya” 59 ha.
RBG memiliki koleksi sekitar 4,000 species dari seluruh dunia. (sumber :
wikipedia).
Memasuki pelataran
utama garden gue melihat rombongan
turis bule sedang mendapat penjelasan tentang sebatang pohon dari pemandunya.
Setelah gue lihat pohon apa yang sedang diceritakan ternyata pohon nangka
dengan buahnya yg tergantung di pohon! Gue berkata dalam hati ah..... pohon beginian
juga banyak di negara gue hehehe.
Pandangan mata gue
tertuju pada sebuah rumah dengan warna kontras merah dan segera gue masuk ke
dalamnya. Rumah dengan plang Plant House
ini ternyata berisi koleksi tanaman yang dikembangkan dengan teknik rumah kaca.
Di tengah perjalanan
mengelilingi garden gue bertemu
dengan 3 orang mahasiswa asal Colombo yang dengan ramah menyapa sehingga gue
sempatkan mengobrol sejenak dengan mereka. Ternyata mereka semua adalah mahasiswa
fakultas kedokteran di Colombo yang sedang berlibur ke RBG. Setelah bertanya
asal negara gue, dengan antusias mereka bertiga “menginterview” gue.
Macam-macam pertanyaan yang mereka ajukan termasuk kekaguman mereka kok bisa
gue traveling sendirian dan sampai di
negara mereka.
Orchid House
juga menarik perhatian gue. Sebuah rumah dengan warna merah yang berisi
berbagai koleksi anggrek sebanyak 300 species
dari seluruh dunia. Sungguh teduh mata memandang ratusan anggrek berwarna warni
dengan berbagai bentuk.
![]() |
Orchid House |
Di salah satu sudut
taman terdapat beberapa koleksi pohon (lupa namanya) yang khusus ditanam oleh
keluarga Kerajaan Inggris. Oh ya RBG ini juga dijadikan sebagai lokasi favorit
untuk melakukan foto pre-wedding bagi
pasangan yang menikah. Ketika gue datang terdapat 2 pasang calon pengantin yang
sedang melakukan kegiatan pengambilan foto.
Tak terasa kaki
lumayan lelah mengelilingi taman yang begitu luas ini sehingga memaksa gue
beristirahat sejenak sembari menikmati teduhnya pohon-pohon raksasa yang
usianya ada yang mencapai ratusan tahun.
Setelah puas
mengelilingi RBG gue kembali ke Clock
Tower untuk melanjutkan perjalanan ke Bahiravakanda
Budha Statue di Kandy Top Hill.
Sebelumnya gue mampir ke salah satu kantin yang menjual makanan dan minuman.
Ketika gue masuk sebagian besar pengunjung menatap gue dan menjadi pusat
perhatian. Gue ke situ hanya ingin membeli minuman dan sang pelayanpun dengan
sigap melayani gue dan tak lupa menanyakan asal negara gue. Ketika gue
sampaikan berasal dari Indonesia tampak mereka begitu antusias dan bertanya ini
itu.
Tidak terdapat bis
yang menuju atau melewati Budha Statue
ini karena jalannya sangat sempit dan menanjak menuju dataran tinggi atau
sebuah bukit di Kota Kandy. Sepertinya tidak ada pilihan buat gue harus naik
tuktuk. Seperti biasa sopir tuktuk membuka dengan harga selangit saat
menawarkan harga namun gue tak kalah sengit menawar. Akhirnya disepakati di
harga RS 300 (Rp 22,500) pulang pergi dan sopir tuktuk akan menunggu gue sampai
gue selesai menjelajah.
Perjalanan menuju
puncak bukit ditempuh hanya dalam waktu 15 menit. Untuk menuju pintu masuk dan
membeli tiket kita harus naik melalui anak tangga tersedia. Setelah membayar tiket masuk seharga Rs 200
(Rp 15,000) gue segera masuk ke halaman kuil. Namun sayang pada saat gue tiba
sedang ada kegiatan renovasi atas patung Budha raksasa tersebut.
Patung Budha yang Sedang Direnovasi |
Patung Budha raksasa
ini dibuat pada tahun 1972 dan berada di ketinggian sebuah bukit 260M dan
ketinggian patungnya sendiri mencapai
27M sehingga tidak heran patung ini dapat terlihat dari seluruh penjuru kota
Kandy dan menjadi landmark bagi kota
Kandy.
Hamparan keindahan
kota Kandy dengan pemandangan Sungai Mahaveli yang merupakan sungai terpanjang
di Sri Lanka mengalir membelah kota Kandy dapat kita nikmati dari ketinggian
kuil.
Kota Kandy dari Ketinggian |
Menjelang sore gue
segera turun untuk menuju Sacred Temple
of the Tooth Relic yang telah gue lewati siang tadi. Menjelang tiba di kuil, gue didekatin oleh
seorang supir tuktuk yang menawarkan jasa tuktuk. Gue telah memberi isyarat
menolak tawarannya namun sang sopir tetap saja menawarkan jasanya. Dan gue
katakan bahwa gue ingin kembali ke tempat penginapan yang jaraknya sudah dekat,
namun gue tetap diikuti kemanapun gue melangkah. Gue berusaha menghindari
dengan menyeberang jalan, sang sopir tuktuk tak kalah gigih mengikuti gue menyeberang jalan sembari terus berteriak. Gue merasa
sangat terganggu dengan sopir tuktuk ini yang terus mengejar gue akhirnya
dengan terburu-buru gue putuskan untuk masuk ke dalam sebuah warnet. Berakhir
sudah pengejaran diriku oleh sang sopir tuktuk yang sempat membuat gue panik.
Sembari menunggu jam
6 sore gue on line di warnet yang
tarif per jamnya Rs 120 (Rp 9,000). Menjelang pukul 6 gue segera beranjak
menuju kuil untuk mengejar upacara ritual yang akan digelar pukul 6.30 sore di
kuil tersebut. Sesampainya di gerbang
kuil untuk pemeriksaan oleh petugas security
yang pintu masuknya dipisahkan antara laki-laki dan perempuan, gue dicegat dan sang
petugas dengan memasang muka galak menyatakan gue tidak diperkenankan untuk masuk.
Gue kaget dan
bertanya kepada petugas alasan gue tidak diperkenankan untuk masuk. Petugas
menjawab karena gue mengenakan celana pendek. Aturan yang berlaku di Sri Lanka
pengunjung tidak diperkenankan untuk memakai celana pendek jika ingin masuk ke
dalam kuil. Seketika gue langsung lemes, masa jauh-jauh datang dan sudah tiba
di depan mata tidak diperkenankan untuk masuk ke tempat yang sangat terkenal dan
sakral ini. Apalagi setelah melakukan riset dan membaca literatur tentang objek
wisata ini di internet memang tidak menyebutkan secara spesifik tentang larangan ini sehingga gue merasa fine saja.
Hm....gue tidak
kehabisan akal dan gue berusaha menjelaskan kepada petugas sembari memohon
kalau gue datang jauh-jauh ke Sri Lanka dan khususnya ke kota Kandy ingin
melihat kuil ini. Petugaspun bertanya asal negara gue dan ketika gue jawab
berasal dari Indonesia, pandangan mata sang petugas menyapu diri gue untuk
sesaat dan gue pun memasang muka memelas di hadapan petugas tersebut. Akhirnya
petugas tersebut menghampiri dan celana gue pun berusaha ditarik-tarik agar
menutupi sebatas lutut. Tanpa disangka gue akhirnya diperkenankan masuk oleh petugas tersebut. Yesss....!
akhirnya berhasil taktik gue dan setelah mengucapkan terima kasih gue segera
masuk ke halaman kuil yang begitu luas.
Di halaman kuil
terdapat patung Hon D.S Senanayake sama halnya seperti yang terdapat di Independence Memorial Hall Colombo yang merupakan perdana menteri pertama
sekaligus founding fathernya negara
Sri Lanka. Rupanya DS Senanayake ini sangat dihormati sehingga kita dapat
menjumpai patung beliau di hampir di setiap kota di Sri Lanka.
Harga tiket masuk
kuil Rs 1,000 (Rp 75,000) dan setelah
menerima tiket masuk kita juga menerima DVD kecil yang berisikan informasi
tentang kuil ini yang tersedia dalam beberapa bahasa. Sebelum masuk kuil kita
harus melepaskan semua alas kaki yang dipergunakan dan dititipkan di tempat
penitipan sandal/sepatu.
Sacred temple of the Tooth Relic merupakan kuil terbesar di Kandy. Kuil ini menyimpan
sejarah panjang yang menyertai kota Kandy yang merupakan ibu kota kerajaan
terakhir di Sri Lanka. Kuil ini berlokasi di dalam kompleks istana kerajaan dan
di dalamnya tersimpan relik gigi Sang Budha dan dinyatakan sebagai UNESCO World Heritage Site pada tahun
1988. Sejak dulu relik ini memainlan peran penting dalam politik lokal karena
dipercaya siapapun yang menyimpan relik ini yang akan memegang pemerintahan negara
(sumber : wikipedia).
Halaman Kuil |
Tepat pukul 06.30
upacara ritual yang dinamakan Thewava dimulai. Upacara ini dilaksanakan 3x
sehari yaitu pada pukul 5.30 dan 9.30 pagi serta 6.30 sore. Ditandai dengan
bunyi alat musik tabuh dan tiup yang dimainkan oleh 6 orang upacara ini dimulai.
Dua biksu dan tiga orang prajurit memasuki lokasi kuil dengan membawa jubah,
api, bel, peti kayu cendana, kapur barus, sikat gigi, handuk, baki dan
keranjang bunga. Semua peralatan tersebut merupakan simbolis yang memperhatikan
kebutuhan sang Budha dan dibawa masuk ke dalam sebuah ruangan di lantai satu
yang kuncinya dipegang oleh seorang biksu. Tidak semua dan sembarang orang yang
boleh masuk ke dalam ruangan ini, hanya beberapa orang yang ditunjuk saja yang
boleh masuk.
![]() |
Upacara Ritual Thewava |
Sementara upacara
ritual berlangsung di lantai bawah, di lantai 2 antrian untuk melihat relik
gigi Sang Budha pun dimulai. Sesuai dengan namanya, kuil ini menyimpan relik
gigi Sang Budha yang disimpan selama berabad-abad. Relik gigi ini diletakkan
pada sebuah mahkota emas bertahtakan berlian dan ditempatkan pada sebuah ruang
kaca pada ruangan khusus tertutup yang
disucikan yang diberi tirai. Setiap hari selama 3 kali tirai ruangan kaca ini
dibuka untuk memberi kesempatan kepada umat Budha dan turis asing untuk melihat
mahkota relik tersebut (giginya sendiri tidak kelihatan karena mungkin
ukurannya yang terlalu kecil).
![]() |
Antri untuk Melihat Relik Budha |
Seperti halnya di
Mausoleum Ho Chi Minh di Hanoi saat warga dan turis asing yang ingin melihat
jasad Paman Ho yang terbaring setelah dibalsam, untuk melihat relik suci inipun
umat Budha dan turis asing harus mengambil posisi antrian satu jalur dan tidak
boleh berhenti harus berjalan terus untuk sejenak memandang relik suci dari
jarak sekitar 10M. Setelah memandang relik suci biasanya umat Budha melantunkan
doa dan puja puji sembari mempersembahkan bunga kepada Sang Budha. Pengurus
kuil menyediakan waktu 30 menit untuk memberi kesempatan pada warga serta turis
untuk melihat relik suci ini. Tepat pukul 7 malam tiraipun ditutup.
Sekitar jam 7an gue mengakhiri kegiatan di kuil ini dan
bergegas mencari makan malam di sekitar kuil. Akhirnya gue terdampar di restoran Queens
Hotel yang letaknya persis di seberang kuil. Selesai makan gue beranjak menuju
sebuah bank lokal Commercial Bank of Ceylon yang letaknya tidak begitu jauh dari
restoran untuk menarik uang tunai melalui ATM.
Di tengah perjalanan gue disapa oleh seorang pemuda warga lokal yang
mengajak mengobrol. Eh...ujung-ujungnya dia meminta gue mengajak dia untuk
mampir ke bar untuk sekedar minum bir. Wah gue menangkap sinyal yang tidak
beres, masa baru kenal sudah meminta ditraktir pula. Untung gue sudah tiba di
bank yang gue tuju dan buru-buru gue masuk untuk menarik uang tunai di ATM.
Astaga...setelah gue keluar dari bank, pemuda tersebut masih
ada dan masih berusaha untuk minta traktir gue. Deg-degan juga perasaan hati
ini, apalagi gue baru saja menarik uang tunai dari ATM. Pikiran negatif dan
cemas seketika menghinggapi diri gue. Gue berusaha untuk tenang dan menjelaskan
kepadanya bahwa gue ingin segera pulang ke penginapan untuk beristirahat.
Untung pemuda tersebut tidak memaksa dan selamatlah gue. Huuffttt...
Jam baru menunjukkan pukul 8 malam tapi gue sangat heran
tepatnya kaget karena jalanan sudah sangat sepi, toko-toko sudah tutup, bus
sudah jarang dan di beberapa ruas jalan gelap karena tidak ada lampu penerang
jalan. Suasana kota Kandy mirip seperti
kota mati karena begitu mencekam di malam hari. Buru-buru gue mempercepat
langkah ingin segera tiba di tempat
penginapan tapi kok nggak nyampe-nyampe yah. Padahal sebelumnya gue sudah
mengingat beberapa clue yang menuju
tempat penginapan. Apalagi di Kandy semua toko atau tempat penginapan jarang
yang memasang neon sign sehingga gue makin bingung menemukan tempat
penginapan gue.
Akhirnya gue bertanya kepada warga yang kebetulan melintas
dan ternyata lokasi penginapan itu hanya berjarak 10 M di depan gue. Tapi
setelah gue tiba, kok pintu penginapan tertutup rapat dan gue harus masuk dari
mana? Sontak gue panik kembali dan berkeringat dingin. Duh gue bingung untuk
menemukan pintu masuk apalagi situasi di depan penginapan benar-benar telah
sepi dan sangat gelap layaknya pukul 12 malam di Jakarta. Kembali gue bertanya
kepada seorang bapak yang kebetulan lewat dan setelah sama-sama celingak
celinguk beliau menunjukkan pintu samping untuk masuk menuju penginapan. Ah
sangking paniknya gue tidak melihat ada pintu samping ternyata.
Begitu masuk ke dalam penginapan gue menceritakan pengalaman
mencekam gue tersebut kepada petugas resepsionis dan buru-buru beliau meminta
maaf karena lupa memberitahukan ke gue sedari awal. Dan gue baru sadar kalau
gue membutuhkan air mineral buat malam itu dan keesokan harinya. Celakanya
persediaan air mineral di tempat penginapan sudah habis dan mini market di
samping penginapanpun sudah tutup. Kemana lagi gue harus mencari air mineral di
malam yang sepi itu di saat semua toko sudah tutup?
Akhirnya dengan ditemani seorang staf di penginapan, gue
menuju ke minimarket yang berjarak sekitar 100M dengan harapan masih buka.
Setibanya di minimarket tersebut
bersiap-siap untuk tutup dan gue memohon setengah memelas untuk dilayani
kebutuhan akan air mineral. Namun petugas minimarket dengan tegas menolak untuk
melayani gue sembari memasang gembok terakhir di pintu dan menguncinya. Ah sial....dengan
lemas dan langkah gontai gue kembali ke penginapan sambil berpikir alangkah
ajaibnya kota ini dan membayangkan gue akan menderita kehausan malam itu hingga
keesokan pagi.
Ya sudahlah dengan pasrah gue menerima keadaan tersebut yang
merupakan pengalaman berkesan selama di Kandy. Saat mandi gue mendengar suara
pintu kamar gue diketuk oleh seseorang dan setelah selesai mandi buru-buru gue
membuka pintu kamar. Di hadapan gue berdiri staf penginapan yang tadi menemani
gue mencari air mineral. Gue melihat di genggaman tangannya sebotol air mineral
ukuran besar yang langsung disodorkan ke gue. Astaga.... laksana sebuah mujizat
menemukan oase di tengah padang pasir akhirnya gue mendapatkan air mineral
tersebut. Dengan terburu-buru gue menerima air mineral tersebut sembari
mengucapkan terima kasih dan gue tidak bertanya-tanya lagi dari mana dia
mendapatkan air mineral tersebut karena gue sudah keburu senang. Dan gue
berjanji akan membayarnya keesokan pagi saat check out dari penginapan.
Malam itu gue kembali berkemas-kemas karena besok pagi akan check out dari penginapan untuk pindah ke kota lain yaitu : Dambulla
dan Sigiriya. Ah kebayang rasa sedih bakal mengiringi saat meninggalkan Kandy
karena gue terlanjur jatuh cinta dengan kota ini walaupun hanya tinggal selama
24 jam.
Bersambung..............
aahhh, kamu ternyata ke Kandy juga :) Eh, tp adam's foot itu apa sih berarti... mas ga kesana ya... btw, kok rada serem baca pengalamanmu di kejar2 supir tuktuk ama dimintain traktiran ama org lokal... aku ama temen cewe, rencana pgn ke Kolombo Desember ini, tp jd ragu skrg ;p
ReplyDeleteAdam's peak letaknya bukan di Kandy tapi beda kota dan saya tidak ke sana. Jangan khawatir, Colombo dan Sri Lanka pada umumnya aman kok termasuk buat cewek namun tetap harus waspada juga kemanapun kita traveling. Instingnya harus jalan :)
Delete