24 Mei 2012 Pukul 06.30 pagi gue sudah nongkrong di salah
satu kedai di dekat penginapan untuk menikmati sarapan pagi setelah sebelumnya check out dari penginapan. Sarapan pagi
gue pagi itu berupa pastry yang
terdiri roti berisi sosis dan muffin
serta segelas teh manis yang ditebus dengan harga Rs 85 (Rp 6,400).
Dengan berjalan kaki gue berjalan menuju Clock Tower untuk mencari bis jurusan Goodshed yang merupakan
terminal utama dan antar kota di Kandy. Dengan membayar Rs 9 (Rp 675) gue tiba
di Goodshed dan bertanya kepada warga lokal bus yang menuju kota Dambulla.
Akhirnya gue baik bus jurusan Sigiriya yang ternyata melewati Dambulla dengan membayar ongkos
sebesar Rs 94 (Rp 7,000). Beruntung bus tidak ngetem terlalu lama menunggu
penumpang dan segera berangkat menuju Sigiriya. Seperti biasa gue mengambil
posisi duduk di kursi paling depan biar gampang untuk bertanya-tanya kepada
sopir.
Bus melaju dengan kecepatan tinggi sembari menaikkan dan
menurunkan penumpang di sepanjang perjalanan. Niat hati mau tidur di tengah
perjalanan, namun gue urungkan pada akhirnya. Ya iyalah siapa juga yang berani
tidur dengan kondisi bus yang melaju dengan kencang dengan ngebut gak kira-kira
seperti itu. Gue perhatikan rata-rata sopir bus antar kota di Sri Lanka
perilakunya seperti itu. Namun buat warga lokal mungkin hal tersebut sudah
biasa. Ah yah sudahlah gue hanya bisa pasrah dan berdoa sambil berharap semoga
tidak terjadi apa-apa terhadap bus ini.
Setelah menempuh perjalanan lebih kurang 3 jam akhirnya gue
tiba di kota Dambulla sebuah kota kecil dan bersahaja yang terletak di sebelah
utara kota Kandy. Di kota ini gue belum melakukan pemesanan tempat penginapan
sama sekali karena sangat sulit mencari penginapan murah di kota Dambulla
melalui internet. Gue berharap bisa go
show dan mendapatkan penginapan dengan tarif yang bersahabat.
![]() |
Pemandangan Kota Dambulla |
Laksana seorang musafir gue berjalan menyusuri kota dengan memanggul
ransel gue berharap menemukan penginapan di jalan yang dilalui. Akhirnya sepasang mata gue menatap
sebuah tempat di salah satu sudut jalan dengan tulisan pada papan namanya
: hotel dan bakery. Asumsi gue tersedia
tempat penginapan di situ. Dengan berbunga-bunga gue memasuki tempat tersebut
namun gue sedikit curiga karena penampakannya seperti tempat makan. Mana
hotelnya pikir gue.
Setelah bertanya kepada seorang perempuan di balik etalase
kaca ternyata memang tidak ada penginapan di situ hanya tempat makan yang
menjual makanan kecil saja alias snack. Ketika gue tanya kok memasang
papan nama dengan tulisan hotel, beliau hanya tersenyum tanpa ada penjelasan
lebih lanjut. Ah aneh-aneh saja kota ini pikir gue sembari terus berjalan.
Gue sempat menemui beberapa tempat dengan embel-embel yang
sama dan gue tidak mau tertipu lagi untuk menghampirinya. Namun Tuhan sungguh
baik, setelah berjalan beberapa ratus meter dengan kondisi berpanas ria gue
melihat sebuah papan nama : SUJATHA LODGE yang masuk ke dalam sebuah jalan
kecil sejauh 50M. Tanpa pikir panjang gue segera meluncur ke sana dan mendapati
sebuah rumah sederhana yang dijadikan tempat tinggal.
Rumah tersebut milik keluarga Priyantha Raj. Kebetulan mereka
mempunyai 2 blok di mana satu blok buat ditempati keluarga besarnya dan satu
blok lagi dijadikan tempat penginapan dengan jumlah beberapa kamar. Masih
tersisa sekitar 3 kamar yang bisa gue pilih dengan tarif berbeda sesuai dengan
letak kamar. Kamar di bawah dibuka dengan harga Rs 1,500 (Rp 112,500) dan
lantai 2 sebesar Rs 2,500 (Rp 187,500). Beda kamar tersebut yaitu di lantai 2
terdapat balkon sehingga bisa dipakai buat bersantai dan tempat tidurnya
dilengkapi dengan kelambu untuk mengusir nyamuk sedangkan di lantai bawah tidak
ada.
Rumah yang dijadikan Tempat Penginapan |
Tempat Tinggal Keluarga Raj |
Karena pertimbangan gue hanya menginap di situ satu malam
saja gue putuskan untuk mengambil kamar di lantai bawah saja. Terjadilah tawar
menawar harga dengan sang pemilik rumah dengan sengitnya dan akhirnya penawaran
harga berhenti pada harga Rs 1,200 (Rp 90,000). Sebuah kamar yang sederhana
namun cukup mengakomodir kebutuhan gue yang cuma satu malam saja di Dambulla.
Melewatkan Malam di Dambulla di Kamar ini |
Baiklah kebutuhan akan kamar sudah terpenuhi, sekarang gue
bersiap-siap menuju Dambulla Cave Temple
yaitu sebuah kuil Budha eksotis yang terletak di bawah sebuah bukit batu. Ketika
ngobrol-ngobrol dengan bapak Priyantha ternyata mereka sekeluarga juga akan
menuju kuil tersebut untuk melakukan upacara keagamaan dan gue pun ditawarin
untuk berangkat bersama menuju lokasi. Siapa sih yang sanggup menolak tawaran
gratis seperti ini? Segera gue mengiyakan tawaran Pak Priyantha lumayan kan
bisa menghemat ongkos.
Pukul 11 siang gue beserta keluarga besar Pak Priyantha meluncur
menuju The Golden Temple. Awalnya gue
sendiri sempat bingung, ketika gue mengatakan kepada Pak Priyantha bahwa gue
akan pergi ke Dambulla Cave Temple.
Tapi setelah tiba di lokasi kok namanya The
Golden Temple? Gue pikir ada temple lain selain Dambulla Cave Temple. Ternyata selidik punya selidik Lonely Planet dan Wiki Travel yang menjadi referensi gue masih menggunakan istilah Dambulla Cave Temple sedangkan nama
resminya The Golden Temple.
Warga lokal tidak perlu membayar untuk masuk ke komplek kuil
sedangkan bagi turis asing dikenakan biaya sebesar Rs 1,300 (Rp 97,500). Untuk
kategori kuil harga tiket masuk ini menurut gue termasuk (sangat) mahal.
Memasuki halaman kuil kita akan berhadapan dengan bangunan
berupa museum Budha yang memiliki halaman luas di depannya dan di atasnya
terdapat patung Budha Raksasa yang berlapis emas dengan ketinggian lebih kurang
30 M. Bangunan museum dan patung Budha ini dibuat pada tahun 1988 dan selesai
tahun 2001.
Patung Budha Raksasa |
Komplek ini memiliki 2
kuil yaitu Rock Temple dan Golden Temple. Untuk menuju Rock Temple yang dinyatakan
sebagai UNESCO World Heritage tahun
1991 ini kita harus naik menyusuri anak tangga menuju sebuah bukit selama kurang lebih 15-20 menit. Cukup lelah
memang apalagi di sepanjang anak tangga banyak monyet-monyet liar yang
berkeliaran. Namun untungnya mereka tidak mengganggu atau membuat ulah terhadap
manusia.
![]() |
Tangga Menuju Puncak Bukit |
Setiba di puncak bukit tersaji pemandangan kota Dambulla yang
sangat indah dan kota Sigiriya pun terlihat dari kejauhan. Sebuah bukit batu
yang berwarna kehitaman berdiri di depan gue dalam posisi memanjang. Bila
dilihat sekilas siapapun tidak akan menyangka kalau di dalam bukit batu
tersebut terdapat mahakarya yang luar biasa yang telah tercipta sejak
berabad-abad yang lalu.
Dambulla dari Ketinggian |
Kuil di Bawah Bukit Batu |
Di dalam bukit batu tersebut terdapat 5 gua utama yang
dipercaya telah ada sejak abad ke-1 dengan berbagai ukuran yang terdiri dari Cave of the Divine King, Cave of the Great King, Cave of Great New Monastery, The Western Temple dan Devana Alut Viharaya. Dari ke-5 gua
tersebut, Cave of the Divine King
adalah gua yang terbesar. Di dalam gua ini banyak terdapat patung Budha dengan
berbagai ukuran dan berbagai posisi : bersemedi, berdiri dan yang terbesar
adalah patung Budha dalam posisi berbaring. Juga terdapat stupa dan yang
membuat gue takjub adalah lukisan dan ornamen yang dibuat secara handmade pada langit-langit gua yang
menceritakan kehidupan Sang Budha. Gue kagum ternyata keahlian dan seni dalam
membuat patung serta lukisan/ornamen di dalam gua tersebut sudah berkembang
pada masa itu dan masih terpelihara hingga saat ini.
![]() |
Patung Budha di Dalam Gua |
Setelah menikmati pemandangan kota Dambulla dari ketinggian, kembali
gue harus menuruni anak tangga untuk menuju The
Golden Temple. Sepanjang perjalanan para penjaja suvernir banyak yang menawari dagangan mereka
dan gua tolak dengan halus tawaran tersebut. Tetapi ada seorang pedagang yang terus
membuntuti gue turun dengan menawarkan suvernir berupa kalung dengan liontin
berupa batu alam yang menurut beliau digali/ditambang sendiri dari tanah. Karena memang tidak
berminat gue abaikan tawaran pedagang tersebut tetapi beliau terus mencoba membujuk
dengan memperagakan batunya yang digosok di lantai dan dibakar untuk membuktikan keasliannya.
Dibuka dengan harga Rs 500 (Rp 37,500), turun ke Rs 400 (Rp
30,000) hingga Rs 100 (Rp 7,500) namun tetap gue tidak bergeming. Gue berpikir
kalau memang asli, kok harganya bisa turun drastis hingga melorot menjadi Rs
100? Ah ada-ada saja trik penjual untuk memikat dan sekaligus menjebak calon
pembeli.
Komplek The Golden
Temple sendiri memadukan patung Budha Raksasa dengan ketinggian 30M serta
Museum Budha yang berisikan kisah perjalanan hidup Pangeran Sidharta mulai dari
lahir, menjadi pangeran, bertapa hingga memperoleh kesempurnaan sebagai Budha
hingga wafat yang digambarkan dalam bentuk diorama pada dinding. Kita juga
dapat menyaksikan koleksi patung Budha hasil sumbangan dari berbagai negara
dalam berbagai ukuran.
Museum Budha |
Gue buru-buru harus segera kembali ke penginapan karena sudah
membuat janji dengan sopir tuktuk untuk mengantar gue ke Sigiriya Archeological Park. Perjalanan
kembali ke tempat penginapan dicapai dengan bus dengan ongkos hanya Rs 10 (Rp
750). Setiba di penginapan sopir tuktuk sudah menunggu. Tuktuk ini khusus gue
sewa dengan membayar Rs 1,500 pp (Rp 112,500) untuk menuju Sigiriya yang
berjarak sekitar 10 KM dari kota Dambulla dan ditempuh selama lebih kurang 30
menit.
Setiba di Sigiriya gue membeli tiket masuk seharga USD 30 (Rp
282,000) dan mendapatkan DVD kecil
tentang Sigiriya dalam 6 bahasa. Ini merupakan tiket masuk objek wisata
termahal di Sri Lanka dan ke-2 termahal yang pernah gue beli setelah Universal Studio Singapore (Rp 370,000).
Sigiriya terletak di Distrik Matale dan ancient
city di Sigiriya ini ditetapkan sebagai UNESCO
World Heritage tahun 1982.
Setelah membayar tiket, di pintu masuk seseorang yang mengaku
sebagai pemandu resmi (dengan menunjukkan ID
cardnya) menawarkan diri untuk menjadi guide
buat gue. Semula gue enggan namun setelah berpikir gue ingin tahu lebih banyak
tentang Sigiriya akhirnya menerima tawarannya dengan bayaran sebesar USD 20 (Rp
188,000).
Memasuki gerbang Sigiriya kita akan melewati sebuah kanal yang
bentuknya masih terlihat jelas dan kita seakan-akan dibawa ke masa ribuan tahun
silam ketika Sigiriya masih berupa sebuah kerajaan yang didirikan oleh Raja
Kashyappan I ( 477 – 495 SM ). Di depan kanal terhampar taman yang merupakan
bagian dari komplek istana raja. Raja Kashyappan I sendiri memiliki 2 komplek
istana yaitu istana musim panas yang letakanya di bawah bukit batu serta istana
musim dingin yang letaknya di puncak bukit batu Sigiriya.
Terdapat 3 taman yang terhampar di depan kanal yaitu water gardens, cave and boulder gardens serta terraced
gardens yang saling terhubung satu dengan yang lain. Taman-taman ini
dipercaya sebagai taman yang memiliki
lanskap taman tertua di dunia. Sisa-sisa reruntuhan sistem irigasi taman-taman
ini masih bisa disaksikan di sini.
![]() |
Taman di Sigiriya Archeological Park |
Setelah menyusuri taman-taman di bekas reruntuhan istana,
kami berjalan menuju bukit batu Sigiriya dan dalam waktu singkat telah
berhadapan dengan Sigiriya Rock yang
berdiri dengan gagahnya dan terbentang menjulang. Ah.....akhirnya mimpi gue
tercapai mengunjungi Sigiriya dan menyaksikan langsung Sigiriya Rock. Ibarat seorang muslim yang menjalankan ibadah haji
di Tanah Suci, belum sah rasanya kalau belum mengunjungi bangunan Kabah.
Demikian juga kalau traveling ke Sri
Lanka belum sah rasanya kalau belum mengunjungi Sigiriya. Gue bersyukur kalau
Tuhan masih memberikan kesempatan untuk mewujudkan satu persatu mimpi gue.
Mimpi itu Tercapai di Sigiriya Rock |
Sigiriya Rock ini tingginya sekitar 200 M dan
terletak pada ketinggian sekitar 370 M di atas permukaan laut. Terdapat 3
komplek bangunan batu yang membentuk Sigiriya
Rock ini yaitu Elephant Rock, Lion’s Rock, dan Cobra Rock . Dinamakan demikian karena bentuknya mirip dengan
satwa-satwa tersebut.
![]() |
Komplek Bangunan Batu yang Begitu Indah |
Untuk mencapai gerbang Lion’s
Rock hingga menuju puncak Sigiriya Rock tentunya kita harus
mendaki menyusuri anak tangga yang telah disediakan. Hm.....benar-benar harus
siap stamina untuk menaiki anak tangga tersebut karena ada beberapa bagian anak
tangga yang bentuknya nyaris tegak lurus dan sangat terjal untuk didaki yang
tentunya sangat menguras tenaga. Sedangkan
Elephant Rock dapat dicapai tanpa
harus mendaki dan Cobra Rock dicapai
pada rute yang berbeda saat menuruni bukit.
Perjalanan menyusuri puncak bukit Sigiriya diantaranya harus
melewati sisi punggung bukit yang telah dipasang anak tangga yang dibuat secara
manual. Saat itu angin berhembus sangat kencang di atas bukit sehingga tangga
yang dipijakpun bergoyang. Hm....agak deg-degan juga apalagi kondisi tangga
sangat sempit dan harus dilalui 2 arah oleh para pengunjung.
Setelah menyusuri beberapa bagian anak tangga akhirnya tiba
di salah satu gua yang sangat sempit dan di dalamnya terdapat galeri lukisan
yang dibuat secara handmade pada
langit-langit serta dinding gua. Raja
pada masa itu memiliki 500 orang istri dan satu persatu istrinya tersebut
dilukis pada langit-langit serta dinding gua tetapi lukisan wanita yang masih
tersisa hanya sekitar 20-an lukisan.
Selepas turun dari gua tersebut pengunjung berjalan melewati
dinding kaca (Mirror Wall). Disebut
demikian karena dinding atau tembok tersebut terbuat dari porselen yang sangat
mengkilap sehingga menyerupai kaca dan di tembok tersebut banyak terdapat
tulisan-tulisan yang berisi puisi yang ditulis oleh raja sendiri. Tembok
tersebut diberi pembatas sehingga pengunjung tidak diperkenankan untuk mendekat
apalagi menyentuhnya.
Akhirnya setelah melanjutkan perjalanan gue tiba di Lion’s Gate yang merupakan bagian dari Lion’s Rock. Lion’s Rock yang sekarang masih tersisa berupa tapak kaki sang
singa sedangkan bagian yang lain telah musnah. Kembali gue harus menyusuri anak
tangga yang semakin menyempit untuk menuju puncak Sigiriya Rock. Akhirnya
setelah berjuang mendaki selama 1.5 jam gue tiba di puncak Sigiriya Rock. Ah.....perasaan letih, capek dan pegal terbayar
lunas dan tidak berarti apa-apa begitu gue tiba di puncak Sigiriya Rock.
![]() |
Apakah Diriku Terbang di Puncak Bukit Sigiriya? |
Diiringi dengan angin yang berhembus kencang di atas puncak
bukit, gue terpaku menyaksikan
pemandangan yang spektakuler dan begitu indah serta tak henti-hentinya berdecak
kagum memandang Sigiriya yang terhampar di hadapan gue dalam posisi 3600.
Begitu indah dan luar biasa dan rasanya ingin berlama-lama di tempat ini. Kota
Dambulla dengan Patung Budha raksasanya di Golden
Temple tampak dari kejauhan.
Dari puncak bukit ini kita juga dapat memandang sisa-sisa hall atau tempat raja dan permaisuri
serta selirnya yang berjumlah 500 orang mengadakan pesta dansa dan diakhiri
dengan mandi bersama di sebuah kolam yang besar yang masih tersisa hingga
sekarang.
Setelah puas menikmati puncak bukit Sigiriya gue turun melalui
jalur berbeda dengan jalur pada saat mendaki untuk menuju Cobra Rock. Waktu yang ditempuh untuk turun lebih cepat pada saat
naik yaitu sekitar 30 menit. Jadi untuk mendaki Sigiriya Rock ini serta turun kembali dibutuhkan waktu sekitar 2
jam.
Menjelang sore gue kembali ke Kota Dambulla dengan diantar
kembali oleh tuktuk yang menunggu gue hingga selesai mendaki Sigiriya Rock dan mengakhiri kegiatan
gue di kota Sigiriya serta Dambulla.
Bersambung..............
Aku jd pgn mengunjungi Sigiriya waktu lagi naik taxi, dan krn jalanan macet parah, iseng2 dengerin siaran radio yg lagi di putar si supir.. Wisata ke Sigiriya... sjk itu lgs cari tau seperti apa tempatnya, termasuk yg katanya Adam's foot di daerah Kandy. Ada kesana juga ga mas?
ReplyDeleteSaya tidak ke Adam's Peak (nama tempatnya, di mana terdapat telapak kaki Budha) karena keterbatasan waktu.
Delete