Udara panas terik
menyengat seakan membakar kulit di siang hari itu tanggal 21 September 2012
sesaat setelah mobil jemputan dari hotel keluar area Bandara Adi Sumarmo Solo.
Tujuan gue saat itu yaitu Fave Hotel di Jalan Adi Sucipto Solo.
Akhirnya trip ke Solo
yang tertunda nyaris selama satu tahun lantaran maskapai penerbangan Mandala
harus mengakhiri operasionalnya tahun lalu, terealisasi juga. Dan kali ini
Garuda Indonesia menggantikan posisi Mandala untuk mengantar gue tiba di Solo.
Beruntung gue mendapatkan tiket promo Garuda CGK-SOC yang sangat murah seharga
Rp...... dan tiket kembali SOC-CGK gue peroleh secara gratis dengan menukar
point GFF (Garuda Frequent Flyer).
Sekitar 20 menit
kemudian akhirnya mobil Kijang Innova tiba di hotel. Untuk penjemputan ini
tidak dikenakan biaya sama sekali karena merupakan bagian dari pelayanan hotel
kepada para tamu. Terkesan dengan Fave Hotel yang pernah gue gunakan saat di
Surabaya, maka gue menggunakan Fave Hotel kembali saat trip ke Solo kali ini.
Untuk pesanan via online harga yang
dikenakan sebesar Rp 263.500/malam (nett) namun harga ini tanpa sarapan pagi
karena gue sengaja memilih tidak sarapan pagi di hotel dan berencana akan
kuliner di luar hotel.
![]() |
Lobby Hotel Semarak Berwarna Warni |
Kamar yang gue tempati
sangat nyaman sekali dan fasilitasnya pun sangat lengkap untuk ukuran harga
seperti itu. AC yang sangat sejuk, WIFI di dalam kamar yang kencang, 2 botol
air mineral setiap hari di kamar, TV Flat
dengan saluran televisi kabel, kotak Safe
Deposit Box , peralatan toiletris
yang lengkap, semuanya memanjakan gue untuk tinggal di kamar hotel tersebut.
![]() |
Tempat Tidur yang Nyaman |
![]() |
Toilet yang Bersih |
Urusan check in selesai, gue langsung turun dan
keluar area hotel. Mata gue tertuju pada seorang bapak tua yang sedang duduk di
dalam becaknya. Gue bersemangat untuk menaiki becak yang sudah bertahun-tahun
tidak pernah gue rasakan lagi. Mengelilingi Kota Solo dengan becak seakan
membangkitkan kembali kenangan akan transportasi tradisional yang sudah
“musnah” dari Jakarta sejak beberapa puluh tahun yang lalu.
Setelah tawar menawar
diakhiri dengan kesepakatan harga Rp 20rb untuk mengantar gue menuju Pasar Gede.
Sang bapak tua dengan tenaganya yang sudah ringkih menggenjot becaknya secara
perlahan menuju Jl. Urip Sumoharjo tempat Pasar Gede berada. Terbersit dalam
pikiran rasa iba terhadap sang bapak tua dalam usianya yang senja masih
mengayuh becak menyusuri jalan.
“Sudah tiba mas”. Sapan
sang bapak menghentikan lamunan gue. Dan Pasar Gede sudah di depan mata berdiri
dengan megahnya. Segera gue melompat dari becak dan membayar ongkos dengan
memberi sedikit tambahan kepada sang bapak tua sebagai tanda simpati.
Pasar Gede Solo |
Pasar Gede nama
lengkapnya Pasar Gede Harjonagoro merupakan pasar tradisional dan terbesar di
Kota Solo yang dibangun pada jaman kolonial Belanda tahun 1930 sehingga tidak
heran bentuk bangunannya khas bangunan lama dengan atap yang besar (sumber :
Wikipedia)
Pasar ini menjual
berbagai buah, sayur-sayuran, bunga dan jajanan khas Solo. Gue melintas sejenak
di dalam pasar untuk menuju ke area di belakang pasar dengan sasaran : Warung Timlo
Sastro. Saatnya menikmati kuliner Solo di siang yang panas ini dan pilihan Menu
Timlo sangat tepat rasanya.
Warung Timlo Sastro Nampak Muka |
Timlo Sastro berlokasi
di Pasar Gede Timur No.1-2 Balong dan hanya buka sampai pukul 15.30 sore
sedangkan cabangnya yang terletak di Jln. Dr Wahidin buka sampai pukul 22.00 malam.
Timlo merupakan kuliner khas Solo yang berupa makanan berkuah mirip sop/soto
namun kuahnya bening dan rasanya gurih dengan isinya berupa potongan daging
ayam, martabak goreng mirip risoles (disebut sebagai sosis Solo) serta tambahan
berupa “isi dalam” ayam seperti hati, ampela, usus dll serta semur telur bebek
yang berwarna kecoklatan.
![]() |
Tim Lo yang Sungguh Menggoda |
Timlo Sastro ini sudah
melegenda dan telah ada sejak tahun 1952 sehingga tidak heran pada saat jam
makan tempat ini nyaris penuh dengan antrian pengunjung. Seporsi Timlo komplet +
nasi putih+es karamel dikenakan harga Rp
23rb. Hm....harga yang cukup murah namun dengan citra rasa yang maksimal.
Kembali kaki melangkah
memasuki Pasar Gede dan mata tertuju pada satu kios ibu H. Siswo yang menjual
jajanan/makanan kecil. Namun gue berhasrat untuk mencoba es dawet telasih khas
Solo di tengah panasnya udara siang itu.
![]() |
Kedai Ibu Hj. Siswo |
Semangkuk es dawet yang
isinya berupa cendol, ketan hitam, tepung beras, buah nangka dengan kuah santan
dan gula merah cair beserta es batu yang menyegarkan dibandrol dengan
harga Rp 3rb. Harus diakui memang kuliner di Solo sangat kaya akan
variasi dengan harga yang relatif murah dan sangat terjangkau namun dengan rasa
yang bikin lidah ketagihan.
![]() |
Sluurrrp....Segarrrr.. |
Mumpung berada di Kota
Solo, gue akan mewujudkan keinginan gue untuk mendatangi Situs Purbakala Sangiran
yang terletak di Kabupaten Sragen atau terletak 18 KM dari kota Solo. Dengan
mengendarai becak gue menuju Terminal Bus Tirtonadi dan membayar Rp 20rb. Awalnya dari Terminal bus Tirtonadi
gue akan menumpang bus umum menuju Kabupaten Sragen, lokas Situs Purbakala
Sangiran berada, namun gue batalkan rencana
itu karena bus umum menuju Kabupaten Sragen tidak melewati lokasi Situs
Purbakala sehingga gue harus masuk lagi
ke dalam dengan berjalan kaki yang jaraknya
masih lumayan jauh.
Akhirnya gue memilih
opsi untuk naik ojek dari Terminal Bus Tirtonadi langsung menuju lokasi Situs
Purbakala Sangiran. Setelah tawar menawar, gue dan tukang ojek sepakat pada
harga Rp 80rb untuk diantar ke Sangiran dan ditunggu sampai selesai untuk
dibawa kembali ke kota Solo.
Perjalanan ke Situs
Sangiran membutuhkan waktu sekitar 30 menit dengan mengendarai ojek. Dan setiba
di Sangiran gue langsung menuju Museum Fosil Sangiran yang letaknya tidak jauh
dari lokasi situs. Harga tiket masuk museum Rp 5rb.
Museum Fosil Sangiran
merupakan museum arkeologi yang dibangun di atas bukit dan bangunannya
berbentuk Joglo. Letak museum ini sendiri berdekatan dengan situs purbakala
Sangiran yang merupakan tempat penemuan fosil manusia purbakala Sangiran. Situs
Purbakala Sangiran sendiri telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh
UNESCO pada tahun 1996 dengan luas areal situs mencapai 56 KM2.
Museum Fosil Sangiran |
Koleksi museum ini
terdiri dari fosil manusia (Pithecanthropus Erectus, Australopithecus Africanus,
Pithecanthropus Modjokertensis, Pithecanthropus Soloensis, Homo
Neanderthal Eropa, Homo Neanderthal Asia, dan Homo Sapiens), Fosil hewan purba yang bertulang belakang
(gajah, kerbau, harimau, badak, babi, banteng dan rusa) serta fosil hewan air
(buaya, ikan, kepiting, kuda nil, kura-kura dll). Juga terdapat fosil
tumbuh-tumbuhan dan bebatuan serta alat-alat batu.
Belajar Sejarah |
![]() |
Beginikah Asal Muasal Kita? |
Di dalam Museum Fosil
Sangiran terdapat 3 ruang diorama yang menceritakan tentang sejarah dan asal
muasal terbentuknya bumi dipandang dari sisi ilmu pengetahuan serta pola
kehidupan manusia purba yang hidup pada jaman tersebut.
![]() |
Kehidupan Manusia Purba |
Secara pribadi gue
sangat suka dengan museum ini karena sangat bagus dengan koleksi dan
infromasinya yang sangat lengkap sehingga dapat membuka khasanah serta wawasan
akan sejarah dan peristiwa yang terjadi di negeri ini.
Dari museum, dengan menggunakan
ojek gue beranjak menuju menara pandang yang jaraknya tidak begitu jauh dari
museum. Dari menara pandang ini kita dapat melihat Situs Sangiran dari
ketinggian.
Situs Purbakala Sangiran dari Menara Pandang |
Sore hari saat yang
tepat untuk menikmati denyut Kota Solo setelah panas yang menyengat itu sirna.
Menyusuri jalan-jalan di kota Solo dengan menyaksikan aktivitas dan geliat
warga yang masih tersisa seolah menawarkan suatu pengalaman yang berbeda.
Melewati Jalan
Ronggowarsito di daerah Keprabon, mata gue tertuju pada sebuah kios dengan spanduknya
yang bertuliskan “BAKSO GARASI”. Hm.....tempat ini sangat menantang untuk
didatangi apalagi dengan kondisi perut yang
sedang lapar. Dalam hitungan sekejab semangkuk bakso panas sudah tersaji
di meja setelah dipesan beberapa menit yang lalu. Apa karena perut gue yang
sedang lapar, bakso ini sangat enak. Namun entahlah yang penting semangkuk bakso ini telah mewarnai sore gue
sembari menikmati Kota Solo yang damai. Tentunya setelah membayar Rp 15rb untuk
semangkuk bakso dan es jeruk serta kerupuk.
![]() |
Nge-Bakso yuuk... |
Gue arahkan kakiku untuk
menyusuri Jalan Slamet Riyadi yang merupakan jalan utama dan terpanjang di Kota
Solo. Dengan trotoarnya yang lebar dan rapi
memanjakan para pejalan kaki sambil sesekali berhenti untuk beristirahat
sejenak.
![]() |
Trotoar yang Sangat Nyaman |
Perlahan senja menyergap
Kota Solo dan malam segera menggantikan senja. Namun geliat Kota Solo belum berhenti
dan baru saja memulai denyutnya. Langkah kaki gue terhenti di Taman Sriwedari
yang merupakan pusat hiburan, seni dan budaya di Kota Solo. Taman ini telah ada
sejak tahun 1900.
Taman Sriwedari yang Menyimpan Sejarah Panjang |
Di dalam komplek Taman
Sriwedari terdapat gedung wayang orang Sriwedari. Di tempat inilah setiap malam
diadakan seni pertunjukan daerah wayang orang yang menyajikan cerita wayang
berdasarkan cerita Ramayana dan Mahabrata. Rencana untuk menonton pertunjukan
malam itu dengan lakon “Sakuntala” akhirnya gagal karena pertunjukan baru
dimulai pukul 8 malam dan gue kelamaan menunggu sampai pukul 8.
Gedung Wayang Orang Sriwedari |
Akhirnya pilihan gue
jatuh kepada kuliner malam. Target kuliner
gue malam ini yaitu Nasi Liwet Solo yang berlokasi di Warung Lemu Wongso Jalan Teuku Umar Keprabon.
Di Sepanjang Jalan Teuku
Umar ini terdapat beberapa penjual nasi liwet dan pada umumnya buka pada sore
hingga malam hari. Namun gue sempat dibuat bingung karena Warung Nasi Liwet
Lemu Wongso terdapat di 2 tempat berbeda
dan lokasinya berdekatan. Semuanya mencantumkan kata “asli” pada spanduknya.
![]() |
Warung Nasi Liwet itu |
Yah sudahlah daripada
bingung, gue pilih salah satu yang pengunjungnya lebih ramai. Dengan konsep
duduk secara lesehan gue segera memesan
nasi liwet kepada ibu penjual. Dalam sekejab pesanan gue sudah datang dan
segera gue santap nasi liwet yang rasanya sangat khas sekali.
Nasi yang disiram kuah
santan dilengkapi dengan ayam rebus yang disuwir serta telur rebus kecoklatan.
Kriuk kerupuk yang garing ikut menemani Nasi Liwet malam itu. Semangkuk ronde
dengan rasa jahe yang hangat menyempurnakan kuliner gue malam itu dengan total
harga yang gue bayar sebesar Rp 22rb. Sangat sebanding dengan kepuasan serta
kelezatan Nasi Liwet yang sudah tersohor ini.
![]() |
Sekali Makan langsung "nagih" |
Sebelum pulang gue
sempatkan mampir ke Solo Grand Mall
untuk melihat aktivitas di situ dan akhirnya tiba di hotel untuk meluruskan
kaki beristirahat di kamar yang nyaman ini.
***************
Pagi sudah menjelang dan
saatnya memulai kuliner pagi. Gue sengaja untuk tidak sarapan pagi di hotel
karena benar-benar ingin merasakan kuliner pagi hari di luar hotel. Seperti
pada umumnya kota-kota di Jawa, menikmati soto di pagi hari adalah hal yang
lazim.
Kali ini gue memilih
Soto Triwindu di Jalan Teuku Umar yang kebetulan lokasinya berdekatan dengan
Nasi Liwet Lemu Wongso yang gue datangi semalam. Soto Triwindu ini hanya buka
pada pagi hingga siang hari sehingga tidak heran pengunjung di pagi hari ini
sangat ramai.
![]() |
Monggo Pinarak |
Terdapat pilihan menu
soto ayam dan soto daging. Dan gue sendiri memilih soto daging dengan me-request tambahan babat. Terdapat
beberapa menu tambahan lain yang tersedia di meja dan bisa langsung diambil
kalau suka seperti sate telur burung puyuh, perkedel, tempe dll.
![]() |
Apa gak Ngeces loe....??? |
Begitu suapan pertama
masuk mulut dan kuah soto melewati kerongkongan gue langsung terasa kelezatan
soto ini. Dengan aroma khas serta daging yang empuk menjadikan soto ini juara
di kelasnya. Berapa harga yang harus gue bayar? Rp 22rb mahal? Tentu tidak
karena
Seakan tiada mau
berhenti, gue lanjutkan kembali penjelajahan di Kota Solo pada pagi itu dengan
mengunjungi Museum Radya Pustaka yang terletak di Jalan Slamet Riyadi. Karena
gue tiba pada pagi hari sekitar pukul 09.00 suasana museum masih terasa sepi.
![]() |
Museum Tertua di Indonesia |
Harga tiket masuk Rp 5b
dan ijin kamera untuk menghambil foto Rp 2.500 untuk wisatawan domestik. Gue baru tahu ternyata Museum Radya Pustaka
ini adalah museum tertua di Indonesia yang didirikan pada tahun 1890 pada masa
pemerintahan Pakubuwono IX di dalam area Kepatihan. Baru pada tahun 1913 museum dipindahkan ke
lokasinya sekarang berada (sumber : Wikipedia).
Museum ini dari segi
ukuran tidak terlalu luas namun menyimpan berbagai macam koleksi. Tampak di
halaman depan museum terdapat meriam kecil peninggalan VOC abad 17-18. Memasuki
area dalam museum terdapat koleksi wayang kulit dan wayang beber dalam berbagai
ukuran yang disimpan dalam lemari kaca.
Museum ini juga memiliki
sejumlah koleksi lain yang terdiri dari arca/patung Budha dan Hindu, senjata
keris dan tombak, gamelan, keramik. Juga terdapat perpustakaan di dalam museum
yang memiliki koleksi sejumlah buku-buku dan naskah kuno, bahkan ada naskah
kuno peninggalan dari jaman Pakubuwono IV.
Di bagian dalam museum
terdapat replika dalam bentuk miniatur Mesjid Agung Demak dan komplek pemakaman
Raja-raja Mataram di Imogiri.
Tahun 2007 museum ini
dihebohkan dengan terjadinya peristiwa pencurian beberapa koleksi museum berupa
patung/arca yang dilakukan oleh oknum/orang dalam museum dan benda-benda
tersebut dijual kepada kolektor. Patung/arca yang dicuri dari dalam museum
diganti dengan arca palsu. Sungguh miris dan sangat disayangkan peristiwa
tersebut bisa terjadi. Semoga kejadian tersebut tidak terjadi lagi di masa
mendatang sehingga koleksi museum dapat dijaga keutuhan serta keasliannya.
Dalam perjalanan kembali
ke hotel gue mampir sejenak ke salah satu mall
lain di Kota Solo yaitu Mall Paragon yang terletak di Jalan Yosodipuro.
Mall ini cukup bagus dan yang gue suka dai mall ini yaitu di bagian sampingnya
berderet berbagai cafe dan restoran, tempat yang cocok untuk nongkrong.
Kesempatan berada di
Solo gue pergunakan sekalian untuk bertemu dengan seorang sahabat sesama backpacker yang gue kenal melalui media
Twitter. Joss, demikian nama yang biasa gue sapa (@GeorgeGuling) sebenarnya berdomisili di Jogja,
namun jarak Solo-Joga yang hanya 1.5 jam perjalanan darat membuatnya tidak
berkeberatan untuk datang dan menemui gue di Solo sekaligus kami menjelajah
kota Solo bersama-sama.
Pukul 12.00 an ditemani
Andre, saudara Joss yang datang bersama-sama dari Jogja mereka tiba di Fave
Hotel sebagai meeting point kami.
Tanpa berpikir panjang gue langsung mengajak mereka untuk kuliner bersama di
siang itu dengan tujuan RM Kusuma Sari di Jalan Yos Sudarso. Di RM kami memesan
Selat Solo yang juga merupakan makanan
khas Solo.
Selat Solo merupakan
kuliner khas Solo yang terdiri dari irisan daging dengan perpaduan rasa gurih, manis
dan sedikit asam dengan sedikit kuah yang encer. Irisan daging ini ditemani
dengan rebusan sayur buncis, wortel, kentang, telur, kacang polong, irisan
tomat, daun selada, timun serta mayonaise
yang kesemuanya dicampur menjadi satu.
Hm.....bertemu dengan
orang yang memiliki hobi dan kesamaan dengan kita membuat suasana menjadi cair.
Obrolan dan pengalaman seru di dunia traveling menjadkan kami seolah 2 orang
sahabat yang sudah sering bertemu padahal baru kali ini kami bertemu satu
dengan yang lain hehehehe.
Tak lama kemudian spot kami sudah berpindah ke Keraton Kasunanan
Solo. Sayangnya saat kami tiba waktu berkunjung ke Keraton Kasunanan ini
tinggal 30 menit lagi dan pukul 15.00 keraton akan segera tutup. Setelah
membayar tiket masuk sebesar Rp 10rb/orang dengan tergesa-gesa kami meluncur ke
dalam komplek keraton yang jaraknya lumayan jauh dari gerbang utama.
Tiba di halaman keraton,
pengunjung diharuskan untuk melepaskan alas kaki dan berjalan melalui jalan
yang berpasir (dan panas) dan dikelilingi dengan rimbunnya puluhan batang pohon
Sawo Kecik. Sempat bergabung dengan rombongan lain yang dipandu oleh seorang
pemandu wisata menjelaskan sejarah Keraton Kasunanan. Namun penjelasannya
menggunakan Bahasa Jawa sehingga mau tidak mau gue mati gaya pada saat itu
karena tidak mengerti.
Sayangnya pengunjung
tidak diperkenankan untuk memasuki bagian dalam dari Keraton Kasunanan Solo ini
melainkan hanya sampai batas halaman saja sehingga kami tidak dapat melihat apa isi bagian dalam keraton.
Akhirnya kami hanya bisa
melihat koleksi di bagian luar keraton dalam ruangan yang bentuknya memutar
secara sekilas saja.
Bersambung..............
Tahun depan! Gue akan ngubek2 solo sama backpack gue, kak! :D
ReplyDeleteBener loh....kan janjinya udah dicatat malaikat di surga :)
DeleteThis comment has been removed by a blog administrator.
DeleteTerimakasih sudah mengunjungi bakso Garasi dan menulisnya secara apik. Kami nantikan kedatangannya kembali. Terimakasih
ReplyDeleteTerima kasih kembali Pak. Tentu saya akan kembali jika ada kesempatan mengunjungi Solo kembali :)
DeleteBakso Garasi buka cabang di Nusa Dua Bali Pak. Jl.Siligita Nusa Dua persis di seberang minimart super99 or sebelumnya Aisis Spa. Ditunggu kedatangnnya. Terimakasih
DeleteThis comment has been removed by a blog administrator.
ReplyDelete