Wednesday, May 1, 2013

Kaoshiung : Pesona Taiwan di Sudut Selatan




Akhirnya tiba juga di kota Kaoshiung setelah 1 jam 40 menit melesat bersama Taiwan High Speed Rail yang berangkat dari kota Taoyuan. Kota No. 2 terbesar di Taiwan yang terletak di ujung selatan Taiwan ini merupakan kota pelabuhan internasional terbesar di Taiwan. Di kota Kaoshiung ini gue memulai perjalanan menjelajahi dan menyibak keindahan Taiwan.


Langkah kecil kaki gue segera berjalan menapaki stasiun Zuoying mencari pintu exit untuk kemudian berpindah ke MRT yang memang berada dalam 1 atap dan  menuju Stasiun induk  Formosa Boulevard yang letaknya sangat dekat dengan hostel tempat gue tinggal selama berada di Kaoshiung.

Walaupun petunjuk arah yang dikirim via email oleh pihak hostel sudah di tangan, namun gue tetap menemui sedikit kesulitan untuk menemukan pintu exit setibanya di Stasiun Formosa Boulevard seperti yang dimaksud dalam email tersebut.

Dari kejauhan gue melihat gerombolan mahasiswa dan mereka akan gue jadikan target sasaran untuk bertanya.  Sesaat gue dekati mereka dan bertanya pintu exit tujuan gue, dengan sigap mereka menjelaskan bahkan salah seorang dari mereka menawarkan gue untuk ikut bersamanya yang kebetulan akan menuju pintu exit yang sama.

Ternyata untuk menuju pintu exit tujuan gue harus naik eskalator 1 lantai lagi dan berjalan  dengan jarak lumayan jauh. Hm...pantesan gue gak nemu-nemu pintu exit ini yang memang ternyata sangat jauh sekali jaraknya. Kebayang luas dan besarnya Stasiun Zuoying ini.

Cuaca hangat meyambut kedatangan gue di Kaoshiung. Suhu di wilayah selatan seperti Kaoshiung relatif lebih hangat ketimbang wilayah utara seperti Taipei. Namun yang membuat gue terkesan adalah sambutan dan bantuan yang tulus dari warga Taiwan yang baru saja membantu gue.

Hanya 5 menit berjalan kaki dari Stasiun Formosa Boulevard gue tiba di Bravo Relax Hostel.  Pemilik hostel langsung tahu kalo gue yang datang dengan menyebut nama gue.

Bravo Relax Hostel Kaoshiung
Tarif hostel di sini untuk kamar tipe dormitory dengan 8 tempat tidur adalah NT 399 (sekitar Rp 135,000) dan gue mendapat kamar di lantai 3. Penghuni kamar hanya dihuni oleh 2 orang dari US dan 1 orang dari Cina daratan saat gue datang jadi suasananya tidak terlalu ramai.

Dormitory Room
Kamarnya sendiri cukup nyaman dilengkapi dengan pendingin udara dan loker serta jaringan Wifi yang sangat kencang. Juga disediakan komputer di ruang tamu sehingga tamu bebas mengakses jaringan internet.

Lobby Hostel
Namun yang gue kurang suka kamarnya mandinya sangat sempit sehingga berasa kurang nyaman dan hanya tersedia 1 kamar mandi untuk setiap lantai.

Karena menyandang sebagai kota terbesar no.2 di Taiwan, sarana transportasi di Kaoshiung  pun sangat modern dengan tersedianya jaringan MRT di dalam kota yang saat ini mempunyai 2 line yang membentang dari utara (Gangshan South) ke Selatan (Siaogang) dan dari barat (Sizihwan) ke timur (Daliao) dengan Formosa Boulevard sebagai stasiun induk yang menjadi interchange dari semua jalur.

Transportasi bis pun tersedia dan kondisinya sangat bersih dan nyaman. Jadwal kedatangan bis di setiap halte sangat tepat waktu dan durasi antar bis pun singkat sehingga kita tidak perlu menunggu terlalu lama jika ketinggalan bis. Informasi nomor bis yang melewati halte tersebut juga terpampang di halte dengan lengkap.

Sepeda juga merupakan sarana transportasi populer di Kaoshiung. Banyak warga yang memanfaatkannya dalam mobilitas sehari-hari. Bagi para wisatawan juga tersedia fasilitas penyewaan sepeda di setiap stasiun MRT dan transaksinya menggunakan kartu kredit karena di tempat penyewaan sepeda ini tidak ada penjaganya jadi sifatnya melayani diri sendiri.

Transportasi Sepeda yang Popular

Lotus Pond

Tanpa buang-buang waktu, gue langung menjelajahi Kaoshiung setelah mandi dan makan siang. Dari Stasiun Formosa Boulevard gue menuju Stasiun Zuoying dan disambung dengan bis no. R51 dan gue tiba di Dragon and Tiger Pagodas yang letaknya di tengah-tengah danau Lotus.

Pagoda kembar dengan warna yang cerah ini  masing-masing terdiri dari 7 tingkat dan letaknya berdampingan. Pintu masuk ke pagoda ini dibuat dalam wujud harimau dan naga dan ada mitos yang mengatakan bahwa masuk ke pagoda ini harus dari mulut naga dan keluar dari mulut harimau. Ini melambangkan dapat mengembalikan lagi ketidakberuntungan dalam diri kita menjadi keberuntungan. Mau percaya? Pilihan di tangan masing-masing.

Dragon and Tiger Pagodas
Di tengah danau Lotus ini banyak tersebar bunga teratai yang nampak indah sehingga tempat ini dikenal dengan nama Lotus Pond.

Tidak jauh dari Dragon and Tiger Pagodas, terdapat pagoda lain yang ukurannya lebih kecil yaitu Spring and Autumn Pagodas yang dibangun sejak tahun 1953. Di antara ke-2 pagoda ini dihubungkan dengan sebuah jembatan melengkung yang menggambarkan seni arsitektur Oktagonal Cina. Indah sekali.....

Spring and Autumn Pagodas
Bergeser dari Spring  and Autumn Pagodas dapat dijumpai Patung raksasa Syuan Tian Emperor setinggi 72 m sedang menggenggam pedang sepanjang 38.5 M. Gue tidak banyak tahu sejarah tentang Tokoh ini karena memang tidak ada penjelasan apa-apa di sekitar lokasi.

Syuan Tian Emperor Statue
Lokasi Lotus Pond ini dipakai warga lokal sebagai tempat untuk bersantai  dan gue pun sangat menyukai tempat ini karena suasananya yang sangat tenang dan damai serta cocok sebagai tempat untuk menyepi.

Bermain Mahyong

Love River

Sore hari saat yang tepat untuk menyusuri dan menikmati Love River yang membelah kota Kaoshiung sepanjang 12 KM. Love River ini mengingatkan gue akan Singapore River dan juga Melaka River. Sama halnya Singapore dan Melaka, Love River inipun benar-benar dimanfaatkan sebagai objek wisata yang populer. Lantas mengapa dinamakan Love River? Gue sendiri tidak tahu, tapi asumsi gue mengatakan karena di sepanjang sungai ini banyak dijumpai orang yang berpacaran sehingga (mungkin) dinamakan Love River.

Love River
Di kedua sisi sungai terdapat broadwalk buat pejalan kaki yang ingin menikmati sungai dari tepi. Saat lampu di tepi sungai dan di beberapa gedung sekitar sungai mulai dinyalakan yang menandai senja menjelang merupakan saat yang tepat untuk merasakan aura Kota Kaoshiung.

Love River Broadwalk
Di tepi Love River dimanfaatkan sebagai night market dan terdapat beberapa outdoor cafe yang membuat tempat ini benar-benar sangat asyik sebagai tempat nongkrong. Jika ingin menyusuri sungai secara langsung tersedia fasilitas boat yang berlayar di Love River dan melewati Jhongheng Bridge dan menuju Pelabuhan Kaoshiung. Harga tiket boat ini sebesar NT 80 (sekitar Rp 27,000).

Love River Cruise
Saat gue tiba di Kaoshiung bertepatan dengan festival lampion sehingga banyak dipamerkan lampion-lampion dengan berbagai ukuran dan bentuk di night market. Lampion-lampion ini dijual dan sangat cantik dan indah sekali.

Love River at the Night
Fo Guang Shan Monastery

Jika berkunjung ke Kaoshiung wajib hukumnya mendatangi tempat ini menurut gue. Karena di sinilah kita dapat melihat langsung kehidupan para biarawan dan biarawati Budha dalam keseharian mereka. Letak Fo Guang Shan Monastery sendiri agak sedikit di luar kota Kaoshiung.

Dari Formosa Boulevard gue menuju Kaoshiung Main Station MRT dan berpindah ke terminal bus yang letaknya di samping Stasiun MRT. Terdapat bus yang langsung menuju Fo Guang Shan yaitu bus no. 8010/8011 dengan harga tiket sebesar NT 91 (sekitar Rp 31,000) dan perjalanan lebih kurang 1 jam menuju ke sana.

Bus to Fo Guang Shan Monastery
Fo Guang Shan Monastery merupakan kompleks yang sangat luas yang di dalamnya terdapat tempat pendidikan bagi para biksu dan biksuni Budha, asrama siswa, kuil, museum, komplek pemakaman serta patung Budha raksasa dan taman-taman yang asri. Tidak dipungut biaya alias gratis untuk masuk ke komplek Fo Guang Shan ini.

Gerbang Masuk Fo Guang Shan Monastery
Lumbini Garden
Avalokitesvara Pond
Komplek Pemakaman
Suasana di Fo Guang Shan ini benar benar senyap dan damai. Hanya keheningan yang mewarnai suasana di dalamnya karena setiap pengunjung disarankan untuk tidak membuat gaduh dan suasana berisik. Disediakan kendaraan kecil secara gratis untuk berkeliling komplek namun gue memilih untuk berjalan kaki agar dapat menikmati setiap spot yang ada dengan puas.

Patung Budha Raksasa

Mobil Mini Berkeliling Area FGS. Mau naik??

Di Main Shrine gue sempat berbincang-bincang dan berfoto dengan seorang biksuni Budha asal Malaysia yang sedang menempuh pendidikan di sana. Ketika tahu gue berasal dari Indonesia beliau senang sekali dan akhirnya percakapan kami diselingi antara Bahasa Inggris dan Bahasa Melayu. Gue juga sempat ditawarkan untuk memukul lonceng raksasa yang terletak di depan Main Shrine sembari mengucapkan 3 wish di dalam hati sebelum memukul lonceng tersebut.

Main Shrine

Bersama Biksuni Asal Malaysia
Do good things, speak good words, think good thought , 3 baris kata-kata bijak yang ditulis pada spanduk yang banyak tersebar di sekitar komplek benar-benar memberi kesejukan dan makna yang mendalam bagi setiap pengunjung.

Kata-kata Bijak itu
Dari Fo Guang Shan Monastery ini rencananya gue akan melanjutkan perjalanan ke kota Tainan sebuah kota kuno dan pernah menjadi ibukota pada masa kekaisaran Cina dahulu. Namun sayangnya gue tidak punya cukup banyak waktu untuk ke sana karena jaraknya yang lumayan jauh dari Fo Guang Shan dan tidak ada transportasi langsung dari Fo Guang Shan. Akhirnya perjalanan ke Tainan gue batalkan.

Former British Consulate Residence at Dagou

Tidak selamanya itinerary yang biasanya telah gue siapkan sebelum berangkat gue jalani sepenuhnya tergantung dengan kondisi di tempat tujuan. Batal ke Tainan, perjalanan gue alihkan ke Former British Consulate Residence at Dagou yang tidak sengaja gue temukan di brosur pariwisata Kaoshiung.

Sebelumnya gue sempatkan dulu untuk mampir ke Kaoshiung Rose Basilica yang terletak di Wufu 3rd Road. Didirikan tahun 1851 dan merupakan katedral yang pertama dan terbesar di Taiwan, juga merupakan salah satu dari 3 basilika utama di Asia. Bentuk bangunan basilika ini mengintegrasikan gaya arsitektur Roman & Gothic. Mumpung tidak ada kegiatan ibadah, gue bisa dengan leluasa masuk hingga ke dalam untuk menikmati keindahan bangunan basilika ini.

Kaoshiung Rose Basilica
Arsitektur yang Indah di Dalam Basilica
Tidak lama gue berada di basilika ini dan langsung meluncur menuju Stasiun MRT Sizihwan. Dan dalam hitungan menit gue tiba di Stasiun MRT Sizihwan. Namun setibanya di Stasiun MRT tersebut yang merupakan stasiun MRT terdekat dengan lokasi yang dituju, gue agak kesulitan untuk menentukan exit yang harus diambil setelah keluar dari MRT karena tidak dijelaskan secara jelas di brosur tersebut.

Sempat celingak celinguk sesaat dan akhirnya gue berpapasan dengan 2 orang karyawan operator MRT laki-laki dan perempuan. Mereka menggiring gue ke peta yang terdapat di dinding dan menjelaskan dengan sabar lokasi yang akan gue tuju. Ternyata dari Stasiun Sizihwan harus disambung lagi dengan bus mikro.

Dasar gue yang belum paham juga dengan penjelasan mereka, tanpa diduga mereka (ber 2) mengantarkan gue hingga ke pintu keluar sampai ke halte bus di tepi jalan raya sembari memberitahukan no bus yang harus gue naiki. Ah..kembali hari itu hati gue tersentuh dengan ketulusan warga Taiwan untuk membantu gue. Mereka benar-benar totalitas dalam memberikan bantuan dan tak segan-segan untuk membantu secara maksimal serta memastikan kalo gue benar-benar sudah paham.

Sembari menunggu bus datang gue meminta bantuan sepasang remaja Taiwan yang juga sedang menunggu bus di halte yang sama untuk memgambil foto buat gue. Nah...gara-gara mengambil foto ini akhirnya mereka ketinggalan bus yang tanpa disadari telah tiba saat sang lelaki tersebut memfoto gue. Walaupun telah berlari-lari dan setengah berteriak mereka tetap ketinggalan bus yang mereka tunggu. Duh....maaf yah bro :)

Gara-gara Mengambil Foto ini
Orange Bus no.01 tiba tepat waktu dan setelah memasukkan uang sebesar NT 12 (sekitar Rp 4,000) di kotak samping sopir gue mengambil posisi duduk dekat pintu keluar. Asyiknya di semua bus di Taiwan  tersedia papan informasi yang akan memberitahukan setiap halte/lokasi yang dilalui (mirip dengan bus TransJakarta gitu deh). Jika lokasi yang akan kita tuju sudah diumumkan, tinggal pencet bel yang tersedia dan bus akan berhenti setelah tiba di halte tujuan. Dijamin tidak bakal kesasar...

Rute dan Jadwal Bus 01
Former British Consulate Residence at Dagou ini letaknya di atas bukit dan pengunjung harus menaiki tangga yang telah disediakan. Persis di depan bukit ini terbentang laut lepas teluk Sizihwan dengan pemandangan yang sangat indah. Dan di sampingnya terletak National Sun Yat Sen University (NSYSU) salah satu universitas bergengsi di Taiwan.


Harga tiket masuk cukup murah sebesar NT 30 (sekitar Rp 10,200). Bangunan yang berwarna orange ini adalah bangunan bekas tempat tinggal Konsul Jenderal  Inggris di Taiwan yang dibangun tahun 1865. Selain menikmati atmosfer arsitektur bangunan kuno pengunjung juga dapat masuk ke dalam bangunan berlantai 2 ini dan tersedia informasi berkenaan dengan gedung ini.

Former Bristish Consulate Residence

Menikmati pemandangan laut lepas dari ketinggian bukit benar-benar memberikan sensasi yang luar biasa apalagi sambil menikmati secangkir kopi atau es krim yang tersedia di cafe di komplek bangunan kuno ini. Hm....rasanya tak rela untuk segera beranjak dari tempat ini yang menjadi salah satu tempat favorit gue di Taiwan.

View Dari Ketinggian
Aura Laut....

Cijin Island

Tidak sah rasanya ke Kaoshiung kalau tidak mampir ke Cijin Island, sebuah pulau indah yang terletak di sebelah barat kota Kaoshiung.

Pagi yang cerah tanggal 22 Feb 2013 gue langkahkan kaki menuju Stasiun MRT Sizihwan. Suasana pagi itu masih sepi dan saat yang tepat untuk menikmati suasana kota. Dari Stasiun Sizihwan gue berjalan kaki selama kurang lebih 10 menit menuju Dermaga ferry Gushan, pintu penyeberangan menuju Cijin Island.

Pagi yang Sepi
Pagi yang sejuk sangat pas bila diimbangi dengan sarapan pagi yang hangat2.  Sepanjang jalan menuju Dermaga Gushan terdapat beberapa kedai yang telah menggelar makanan sarapan pagi. Gue melirik ke salah satu kedai yang telah siap menyajikan sarapan pagi dan gue memilih menu bihun dengan kuah kental dengan campuran fish cake. Harganya NT 50 (Rp 17,000) dengan rasa yang lezat. Sluuuurp

Hmm....Sluurrp
Dermaga Gushan pagi itu pun masih sepi. Belum banyak penumpang yang menyeberang pagi itu. Sesaat gue berjalan-jalan di seputar dermaga, meyaksikan simbol kemewahan warga Kaoshiung dengan jejeran yacht yang diparkir sepanjang dermaga.

Gushan Ferry Pier
Dengan hanya membayar NT 15 (Rp 5,100) kita bisa menyeberang sampai ke Cijin Island dan waktu tempuhnya hanya 10 menit. Sepanjang perjalanan menuju pulau, disuguhkan pemandangan Pelabuhan Kaoshiung yang sangat sibuk.

Siap Mengarungi Laut
Walau hanya 10 menit, namun gue sangat menikmati percakapan dengan seorang bapak warga lokal dan entah mendapat intuisi dari mana beliau bisa menebak kalau gue berasal dari Indonesia. Ah baru kali kali dalam sejarah traveling, warga lokal bisa menebak dari mana gue berasal.

Sayang gue hanya punya waktu setengah hari untuk menjelajahi pulau ini yang tentunya tidak cukup karena tengah hari gue harus segera bergerak kembali menuju Taipei. Tidak terdapat angkutan umum di pulau ini, namun turis dapat menyewa sepeda untuk berkeliling pulau.

Namun gue memilih untuk berjalan kaki menyusuri setiap jengkal tanah, blusukan keluar masuk pasar dan tentunya mampir ke beberapa spot menarik yang ada di pulau ini. Bentuk Cijin Island sendiri memanjang dari barat ke timur.

Tentunya jangan dilewatkan untuk menikmati Pantai Cijin yang indah dengan pasirnya yang halus. Karena gue datang di pagi hari suasana pantai masih sepi sehingga saat yang pas untuk menikmati pantai ini.


Menyusuri bibir pantai dan gue tiba disebuah bukit yang letaknya di ujung pantai. Gue merasa tertantang untuk mendaki bukit ini menuju mercusuar (Kaoshiung Lighthouse) yang terdapat di puncak bukit. Hm....setelah mendaki lebih kurang 20 menit dan diselingi dengan ngos-ngosan akhirnya gue tiba di puncak bukit lokasi dimana mercusuar tersebut berada.

Di Depan Kaoshiung Lighthouse
Luar biasa indahnya pemandangan Selat Taiwan yang disaksikan dari atas bukit. Namun sayangnya pengunjung tidak dapat naik sampai ke atas mercusuar karena memang ditutup buat umum dan pengunjung hanya diperkenankan sampai di bawah kaki mercusuar saja.

View Selat Taiwan
Tidak jauh dari bukit, terdapat Cihou Fort sebuah benteng yang dibangun sejak tahun 1720. Walaupun telah berusia ratusan tahun namun benteng ini masih berdiri tegak dan sisa-sisa reruntuhannya masih dapat disaksikan hingga saat ini.

Cihou Fort
Cijin Star Tunnel yang membelah Gunung Cihou berujung di laut lepas juga salah satu spot yang tak kalah menariknya di Cijin Island ini. Di dalam terowongan ini dapat mengeluarkan cahaya sesuai dengan bentuk lukisan dan tulisan yang dipahat pada langit-langit goa.


Dalam Goa
Ujung Goa
Cijin Island juga merupakan tempat yang hits untuk menikmati kuliner bertema sea food. Tak heran wisawatan berbondong-bondong datang ke pulau ini untuk menikmati hidangan sea foodnya.

Para Penikmat Sea Food
Lepas dari dermaga penyeberangan, deretan kios dan restoran yang menjual berbagai hidangan laut berjejer di sepanjang jalan. Pengunjung dapat mengecek harga dulu dengan membandingkan satu kios dengan kios yang lain.

Gue pun tak mau melewatkan kesempatan untuk menikmati kuliner sea food di Cijin Island ini. Namun gue sempat bingung restoran mana yang akan didatangi karena begitu banyak restoran yang ada. Ok, gue pake naluri dimana restoran yang banyak pengunjungnya ke situ akan gue datangi.

Di depan restoran berbagai jenis sea food didisplay dan terpampang harga masing-masing item. Hm...otak gue langsung bekerja mengkonversi dalam mata uang rupiah dan.....cukup mahal harganya untuk makan seorang diri. But....the show must go on. Gue disambut seorang pelayan yang langsung bertanya gue minta dilayani menggunakan bahasa apa? Hm...pelayanan yang cukup bagus kepada wisatawan.
 
Dipilih....dipilih....
Pilihan gue jatuh pada ikan gindara, cumi-cumi dan sayuran hijau (entah apa namanya). Nasi boleh ambil sepuasnya dan gratis...tis...Ketika pelayan menanyakan gue berasal dari mana dan gue jawab berasal dari Indonesia, dia langsung mengenalkan gue dengan pelayan lain yang juga berasal dari Indonesia. Namanya Ci Amei berasal dari Batam dan sudah bekerja di Taiwan selama 10 tahun. Tak heran karena banyak WNI yang bekerja di Taiwan di berbagai sektor.

Bersama WNI Ci Amei
Tidak butuh waktu lama untuk menunggu pesanan gue datang karena pelayanan restoran ini cukup bagus. Saatnya gue berjuang untuk menghabiskan semua pesanan seorang diri karena porsi makanan ini lumayan banyak. Di akhir ritual makanan disediakan buah jeruk lokal  yang kata Ci Amei  jeruk termanis di Taiwan. Berapa harga yang gue bayar untuk makan siang kali ini? NT 300 (sekitar Rp 102,000).....hening sesaat saat duit digelontorkan dan berpindah ke tangan sang kasir.

Mari Makan...
Gue buru-buru meninggalkan Cijin Island untuk segera kembali ke hostel mengambil backpack dan melanjutkan perjalanan kembali ke Taipei. Sulit untuk melupakan kehangatan kota Kaoshiung dan gue akan selalu kangen dengan kehangatan dan persahabatan warganya...... 

2 comments:

  1. serasa berada disana menikmati pemandangan2nya..terimakasih ya :)

    ReplyDelete