![]() |
Selamat Datang di Tanjung Bira |
“Pokoknya kalo ke Sulawesi Selatan loe harus
mampir ke Tanjung Bira karena tempat itu begitu indah”. Begitu pesan
seorang rekan kepada gue beberapa tahun lalu. Hm...Tanjung Bira. Setahu gue landmark Sulawesi Selatan selain Makassar
yah Tana Toraja yang sudah gue datangi dan terbukti memang indah dan unik serta
mistis. Sampai akhirnya gue mencari tahu tentang keindahan Tanjung Bira ini
dari informasi beberapa rekan yang sudah berkunjung ke sana maupun dari
internet.
Hati mulai tergerak
untuk menjelajahi Tanjung Bira namun sayangnya belum ada kesempatan untuk
berkunjung ke sana. Selain jarak yang cukup jauh, kunjungan ke Sulawesi Selatan
selalu berkutat di Makassar dan sekitarnya.
Kesempatan akhirnya
datang dan hati mulai dimantapkan untuk menjejakkan kaki ke Tanjung Bira.
“Racun” yang bernama tiket promo seperti biasa membius gue. Pilihan jatuh
kepada Batavia Air 3 bulan sebelum tanggal keberangkatan. Namun bak disambar
petir di siang hari, sebulan sebelum keberangkatan diberitakan Batavia Air
bangkrut dan tidak ada kejelasan akan nasib pemegang tiket.
Mimpi itu nyaris
kandas. Namun keberuntungan berpihak pada gue. Pemegang tiket ex. Batavia Air
jurusan Makassar bisa mengganti tiketnya dengan tiket maskapai Citilink. Ah....akhirnya
gue mendapatkan kembali mimpi gue untuk ke Tanjung Bira tgl 28-31 Maret 2013.
Pesawat Citilink
mendarat pukul 02.00 dini hari tanggal 28 Maret 2013 di Bandara Hasanuddin
Makassar, bandara terbesar dan termegah di Indonesia Timur. Sudah merupakan hal
biasa bagi gue untuk tidur di bandara jika saat traveling tiba tengah malam atau dini hari di tempat tujuan,
termasuk di bandara Hasanuddin ini.
![]() |
Bandara Hasanuddin yang Modern |
![]() |
Megah |
Tempat pewe sudah
didapat. Colokan tersedia di samping siap untuk mengisi daya baterai blackberry gue yang sudah drop. Mata
sudah terpejam untuk membawa gue tidur
sejenak di dini hari itu. Sedang asyik-asyiknya tidur gue dikejutkan oleh suara
teriakan dan orang yang berlari-lari melewati gue sambil membawa pentungan.
Ternyata ada orang
liar yang masuk ke areal bandara hingga ke dalam gedung terminal untuk mengejar
seseorang (tidak jelas siapa yang dikejar) dan setiap orang yang ditemui
dipukul dengan pentungan yang dibawa. Posisi gue tidur hanya berjarak sekitar 3
meter dari orang liar tersebut dan sontak gue kaget sambil mengambil langkah
seribu melarikan diri.
![]() |
Drama Pagi itu |
Hm..bagaimana sistem
pengamanan di bandara ini sehingga orang liar yang tidak punya kepentingan bisa
menerobos masuk sampai ke areal terminal bandara. Dalam waktu sekejap, orang
liar tersebut dapat diringkus oleh petugas keamanan bandara dan seperti biasa
menjadi bahan bulan-bulanan massa yang mengerubunginya alias digebukin.
Ah...ada-ada saja dini hari gini sudah disuguhi drama yang mencekam.
Fajar sudah
menyingsing dan gue sempat kesal dengan seorang petugas yang terus membuntuti
gue di pintu keluar untuk menawarkan jasa taksi. Berkali-kali gue tolak namun
beliau dengan gigih terus saja menawarkan jasa taksinya.
Akhirnya gue
menyelinap masuk ke sebuah kafetaria di area pintu keluar bandara. Selain untuk
menghindari dari kejaran tawaran taksi sekalian gue mampir untuk sarapan pagi.
Coto Makassar yang hangat di pagi hari menyapa gue seolah menyambut kedatangan
gue di Makassar. Namun sayang nasi putihnya terlalu keras. Tak peduli gue
habiskan juga karena akan segera menempuh perjalanan panjang ke Tanjung Bira.
“Pak, ojek motor dimana? “ tanya gue pada
seseorang begitu keluar dari bandara karena gue akan menuju Terminal Malengkeri
menggunakan jasa ojek.
“Oh di sana mas” jawabnya sambil menunjuk
area parkir motor. Dengan semangat membara sambil memanggul ransel gue berjalan
ke arah parkir motor. Begitu tiba di parkiran motor gue bertanya kepada petugas
parkir.
“Mas ojeknya di mana?” tanya gue.
“Wah di depan sana mas” kata sang tukang
parkir. Hadoooh...yang bener dimana? tanya gue dalam hati. Sial gue di pingpong
sana sini.
Pertanyaan terakhir
gue lontarkan kepada 2 orang cewek (kelihatannya sih seperti mahasiswa) yang kebetulan lewat di
depan gue.
“Mbak, kalo mau nyari ojek motor di mana yah?
tanya gue.
Sesat mereka
berpandangan. Dan gue bisa mengambil kesimpulan bahwa mereka tidak bisa
memberikan informasi yang gue butuhkan.
“Emang mau kemana mas?” tanya mereka
kepada gue.
“Mau ke Terminal Malengkeri” jawab gue
secara singkat.
“Wah jauh sekali itu” kata salah seorang
kepada gue dengan logat Makassar yang kental.
“Iya” seorang lain ikut menimpali.
(Dalam hati gue)
“Iya gue tahu kalau jauh, trus gue harus membatalkan gitu kalau jauh? Lah
memang itu tujuan gue.
“Kalau begitu ikut kita saja mas kebetulan
kita mau ke arah sana” tawar salah seorang kepada gue.
Mendengar tawaran
gratis, semangat gue langsung menggelora.
“Yaaah...tapi kita tidak bawa helm lebih”
sesal salah satu dari mereka. Batal deh dapat tebengan gratis pikir gue.
“Gimana kalo ikut kita sampai gerbang depan
bandara, nanti baru sambung ojek motor dari pinggir jalan menuju ke terminal”
tawar mereka kepada gue dan tanpa pikir panjang langsung gue iyakan ajakan
tersebut. Lumayan lah dapat tebengan gratis walau hanya sampai gerbang bandara.
Motor melesat dengan
cepatnya dan setelah ngobrol-ngobrol benar tebakan gue kalau mereka berstatus
mahasiswa dan mereka juga tergabung dalam sebuah klub motor di Makassar.
Hm...pantes bawa motornya saja melaju secepat kilat.
Lumayan jauh juga jarak
dari area dalam bandara menuju gerbang depan. Dan gue diberhentikan di sebuah
pangkalan ojek di tepi jalan. Sempat tawar menawar akhirnya disepakati tarif
ojek menuju Terminal Malengkeri sebesar Rp 50rb dengan jarak tempuh sekitar 1
jam. Terminal ini terletak di pinggiran Makassar dekat perbatasan dengan
Kabupaten Gowa.
Ternyata angkutan
umum menuju Tanjung Bira bukan berupa bus besar namun berupa mobil pribadi
sejenis kijang innova yang disulap menjadi angkutan umum. Sebenarnya dari
Terminal Malengkeri terdapat angkutan langsung menuju Tanjung Bira namun
jarang dan jam operasinya pun terbatas
sehingga gue mengambil rute ke kota terdekat dari Tanjung Bira yaitu Bulukumba
dan nanti disambung lagi menuju Tanjung Bira dari Bulukumba.
Tarif menuju Bulukumba
sebesar Rp 35rb dan gue mengambil posisi duduk di depan samping sopir.
Sepanjang perjalanan sopir mengambil penumpang sesuai dengan rute yang akan
ditempuh yaitu Makassar-Gowa-Takalar-Jenepento-Bantaeng-Bulukumba.
Sepanjang perjalanan
gue terlelap karena semalam hanya tidur beberapa jam saja. Saat tiba di kota
Bantaeng, mobil berhenti sejenak di rumah makan A & Y untuk makan siang.
Rumah makan tersebut siang itu sangat ramai. Rupanya rumah makan ini memang
rumah makan favorit bagi kendaraan yang transit di kota Bantaeng menuju kota
Bulukumba dan Sinjai.
![]() |
Menu di Rumah Makan A & Y Bantaeng |
Hm....gue sangat
menikmati paket menu ikan bakar + Sop Saudara seharga Rp 30rb yang menjadi
pilihan gue. Ternyata keramaian di rumah makan ini berbanding lurus dengan rasa
makanannya yang ternyata memang enak.
Akhirnya setelah
menempuh perjalanan selama 4 jam lebih gue tiba di Kota Bulukumba dan diantar
menuju terminal untuk berganti angkutan
umum menuju Tanjung Bira. Ternyata satu mobil baru saja berangkat saat gue tiba
di terminal, artinya gue harus menunggu mobil berikutnya diisi penuh dengan
penumpang dulu baru bisa berangkat.
Saat itu baru
terdapat 2 orang penumpang termasuk gue dan penumpang ke-3 datang yang ternyata
setelah kenalan seorang backpacker
juga dari Jakarta bernama Saleh yang melakukan solo traveling seperti gue. Kami
akhirnya sepakat untuk menjadi travel
mate selama berada di Tanjung Bira.
Tarif angkutan
menuju Tanjung Bira sebesar Rp 20rb. Sang sopir menawarkan tarif Rp 35rb per
orang dengan catatan mobil langsung berangkat tanpa menunggu mobil penuh dulu.
Setelah berdiskusi, semua penumpang setuju dengan tarif tersebut. Daripada
menunggu lama, tak masalah lah harga segitu, begitu pikir gue.
![]() |
Gerbang Masuk Pantai Bira |
Kurang lebih 1 jam
kai tiba di Tanjung Bira dan gue langsung dihantar menuju penginapan yang sudah
gue pesan dari Jakarta yaitu Nini’s
Guesthouse yang letaknya hanya 5 menit berjalan kaki menuju Pantai Tanjung
Bira yang indah itu.
![]() |
Lobby Nini's Guesthouse |
Penginapan sederhana
ini milik seorang warga Inggris yang menikah dengan warga lokal. Tarif per
malam sebesar Rp 120rb untuk kamar single
dengan kamar mandi di luar. Saat masuk, gue satu-satunya warga Indonesia yang
menginap, sisanya semua turis asing bule.
![]() |
Kamar Gue di Nini's Guesthouse |
Saleh megambil
penginapan lain yang jaraknya tidak jauh dari Nini’s Guesthouse yaitu Riswan
Guesthouse dengan tarif Rp 100rb per malam dengan kamar mandi di dalam. Di
Tanjung Bira masih bisa ditemukan penginapan murah dengan tarif Rp 100rb-an.
Setelah beristirahat
sejenak kami sepakat mengunjungi Bukit Pua Janggo untuk menyaksikan sun set di Tanjung Bira. Untuk mencapai
puncak bukit ini dibutuhkan berjalan
kaki selama kurang lebih 15 menit dari Gapura “Selamat Datang” dan letak bukit
ini di sebelah kiri. Untuk mendaki ke puncak bukit dibutuhkan waktu kurang
lebih 20 menit dengan jarak 1KM dari tepi jalan raya. Kondisi jalannya
bertaburan karang-karang tajam sehingga kurang nyaman untuk dilalui.
![]() |
Menuju Bukit Pua Janggo |
Pemandangan Tanjung
Bira dengan pantainya yang indah dapat disaksikan dari puncak bukit ini,
demikian juga Pulau Liukang di
seberangnya yang bakal menjadi lokasi snorkeling
gue keesokan harinya. Saat-saat matahari kembali ke peraduannya menciptakan
momen yang luar biasa yang bisa disaksikan di puncak Bukit Pua Janggo ini.
Suasana sunyi dan hening karena hanya ada kami
berdua di sana saat itu.
![]() |
Tanjung Bira dari Punak Bukit Pua Janggo |
![]() |
Sunset di Tanjung Bira |
Tidak ada aktivitas
yang dapat dilakukan pada malam hari di Tanjung Bira karena suasananya memang
sepi di sana. Tidak ada suara musik menggelegar yang dihasilkan dari bar atau
klub malam karena memang tidak ada di Tanjung Bira. Hanya kafe kecil dan
restoran yang menemani pengunjung untuk melewati malam di Tanjung Bira.
Istirahat merupakan
pilihan yang tepat untuk gue lakukan malam itu berhubung kondisi memang sangat
capek hari itu setelah menempuh perjalanan panjang dari Jakarta dan Makassar
dan belum beristirahat secara maksimal.
*****
Belum ke Tanjung
Bira kalau tidak snorkeling di sana. Dan
keinginan untuk snorkeling inilah
yang membawa gue ke Tanjung Bira. Memang Tanjung Bira merupakan surga bagi
pencinta dunia bawah laut yang menawarkan banyak spot yang indah untuk diselami.
Pagi-pagi gue
membuat janji dengan Saleh untuk bertemu di pantai sembari mencari pengunjung
lain yang bisa diajak untuk berbagi biaya penyewaan kapal. Sebenarnya gue bisa
ikut aktivitas snorkeling yang diarrange oleh pihak guesthouse namun sayangnya kuota peserta sudah maksimal sehingga
gue dan Saleh tidak bisa ikut bergabung.
Mumpung Saleh belum
tiba gue puaskan untuk berjalan-jalan di bibir pantai Bira yang pagi itu sudah
ramai dengan para pengunjung. Pantai Tanjung Bira berkontur landai dengan
butiran pasir yang sangat halus. Di pinggir pantai berjejer hotel-hotel yang
menghadap laut yang tentunya menawarkan pemandangan yang sangat indah dengan
harga yang indah juga pastinya.
![]() |
Pantai Bira yang Cantik |
Beberapa pengunjung
yang kami tawarkan untuk berbagi biaya penyewaan kapal tidak ada yang bersedia
karena mereka memang tidak berminat untuk snorkeling
dan ada juga yang sudah snorkeling di
hari sebelumnya.
Setelah berunding
dengan Saleh kami sepakat untuk menyewa kapal berdua saja karena khawatir hari
keburu siang dan kamipun melakukan tawar menawar dengan pemilik kapal yang dari
semalam sudah menawarkan jasanya kepada kami untuk menyeberang ke Pulau Liukang
sebagai lokasi snorkeling. Dibuka
dengan harga Rp 300rb termasuk peralatan snorkeling, kamipun menawar kepada
pemilik kapal sebesar Rp 200rb dan akhirnya kami sepakat berhenti pada harga Rp
250rb berarti masing-masing kami hanya membayar Rp 125rb.
![]() |
Kapal Motor Menyeberang ke Pulau Liukang |
Pulau Liukang
memanjang dari barat ke Timur dan untuk menyeberang ke pulau ini dibutuhkan
waktu sekitar 20 menit dengan menggunakan kapal motor. Kapal tidak berhenti
sampai ke Pulau Liukang namun berhenti di lokasi untuk melakukan snorkeling di sekitar pulau. Ada
beberapa kapal yang sedang lepas jangkar di dekat kapal kami untuk melakukan
kegiatan serupa.
![]() |
Pulau Liukang |
Tak sabar rasanya
untuk segera nyemplung ke laut yang bening ini. Dari atas kapal koral dan terumbu
karang yang berwarna warni terlihat sangat
jelas apalagi cuaca pagi itu sangat cerah sangat mendukung untuk
melakukan kegiatan snorkeling.
![]() |
Terumbu Karang |
Luar biasa indahnya
dunia bawah laut Bira setelah badan gue nyemplung ke laut dengan peralatan snorkeling. Mata ini serasa tidak
percaya dengan apa yang disaksikan di bawah laut sana. Koral dan terumbu karang
berwarna warni dengan perpaduan berbagai biota laut mematrikan Bira sebagai
“surga” bawah laut.
![]() |
Nyemplung |
Gue membawa diri gue
berenang ke sana kemari untuk berpindah menjelajahi dunia bawah laut Bira. Ikan
hias berwarna warni dari berbagai jenis hilir mudik di depan gue seolah
menyambut kedatangan kami. Lokasi penyelaman di Bira sangat luas dan gue liat
karangnya masih terawat.
![]() |
Gerombolan Ikan |
Satu hal yang sangat
gue sesali yaitu gue tidak bisa mendokumentasikan dunia bawah laut Bira yang
sangat indah ini karena tidak membawa (baca : tidak punya) kamera water proof. Sang pemilik kapal
merangkap sebagai sopir kapal + guide
membawa kami berpindah dari satu titik ke titik lainnya di sekitar Pulau
Liukang.
Rasanya tubuh ini
enggan unttuk naik ke kapal. Tak
puas-puasnya menikmati keindahan Bira. Sayang kami tidak bisa berlama-lama melakukan
snorkeling ini, hanya 3 saja karena
Saleh harus mengejar waktu untuk melaksanakan Sholat Jumat.
Siang hari gue check out dari guesthouse dan melanjutkan perjalanan kembali ke Makassar melalui
Bulukumba sementara Saleh tetap tinggal di Bira sampai keesokan hari.
Tak salah memang
Tanjung Bira disebut surga, keindahannya memikat hati setiap orang yang datang
ke sana. Bira......gue akan kembali untukmu suatu saat nanti.
Halooo
ReplyDeleteSalam kenal
Saya mau nanya dong, itu alat snorkelingnya bawa sendiri atau ada penyewaan disana?
Saya berencana mau ke Bira juga soalnya hehe
Hai..salam kenal juga. Maaf baru sempat balas, baru pulang dari trip selama 2 minggu :) Alat snorkeling biasanya sudah satu paket dengan biaya sewa perahu, tapi kalau mau bawa sendiri gak apa-apa.
ReplyDeleteThis comment has been removed by a blog administrator.
Deletesewa perahu yg sepaket dengan alat snorklingnya berapa mas?
ReplyDeleteIni saya kutip lagi dari isi blog di atas yah......
Delete"Setelah berunding dengan Saleh kami sepakat untuk menyewa kapal berdua saja karena khawatir hari keburu siang dan kamipun melakukan tawar menawar dengan pemilik kapal yang dari semalam sudah menawarkan jasanya kepada kami untuk menyeberang ke Pulau Liukang sebagai lokasi snorkeling. Dibuka dengan harga Rp 300rb termasuk peralatan snorkeling, kamipun menawar kepada pemilik kapal sebesar Rp 200rb dan akhirnya kami sepakat berhenti pada harga Rp 250rb berarti masing-masing kami hanya membayar Rp 125rb."
wah bestnya,,,boleh ke nak join travel bersama...next destination?
ReplyDeleteyes..Tanjung Bira is the best for diving and snorkeling spot.
Deletebestnya...kapan bila travel bersama mas...next destination mau ke mana mas?
DeleteDalam waktu dekat ini belum ada rencana untuk traveling lagi.
Deleteayo ke puerto princesa...pengen ke sana tapi enggak ada teman,,,ada whatsappnya mas
Deleteinfo hotel yg terjangkau&bersih di tanjung bira? kontak yg bisa dihubungi ke sunshine guest house?
ReplyDeleteMas info villa yg di kawasan bira apa saja danïnfo harganya
ReplyDeleteSaya waktu itu menginap di Sunshine/Nini's Guesthouse dgn rate sekitar 120rb. Untuk penginapan lainnya saya kurang tahu karena saya tidak mencari secara door to door tetapi langsung booking dari Jakarta. Coba dicek melalui fasilitas Google. Salam..
DeleteThis comment has been removed by a blog administrator.
ReplyDeleteThis comment has been removed by a blog administrator.
ReplyDeleteThis comment has been removed by a blog administrator.
ReplyDelete