Thursday, November 7, 2013

Mabuhay ng Pilipinas......




Magandang Umaga, Mabuhay ng Pipilinas. Sapaan awak kabin maskapai Cebu Pacific yang berarti “Selamat Pagi, Selamat Datang di Filipina” membangunkan tidur gue pagi itu. Tidak terasa sejak bertolak dari Jakarta dan sekitar 4 jam di udara, sekarang bersiap-siap untuk mendarat di Bandara Internasional Ninoy Aquino di Manila, Filipina. Gue paksakan mata  untuk terbuka dan mengintip penunjuk waktu pagi itu yang menunjukkan pukul 05.40. Untuk pertama kalinya gue terbang bersama Cebu Pacific dan kesan pertama yang gue rasakan lumayan bagus untuk pelayanannya.


Tidak gampang untuk mengumpulkan nyawa pagi itu karena gue tidur sangat lelap. Namun sesaat setelah mendarat nyawa gue telah menyatu kembali dengan raga ini. Suasana Terminal 3 Bandara Internasional Ninoy Aquino Manila pagi itu relatif sepi karena tidak banyak pesawat yang mendarat dan itu memberikan keuntungan tersendiri karena berarti tidak perlu antri panjang untuk melewati imigrasi.

Tempat penukaran uang berjejer di pintu keluar dan setelah membandingkan satu dengan lannya nilai tukarnya relatif tidak jauh berbeda. Sisa Dollar Singapore yang masih gue miliki di perjalanan sebelumnya gue tukar dengan Peso Filipina. Satu urusan lagi yang harus gue selesaikan sebelum bertolak keluar yaitu membeli kartu perdana lokal  untuk mengaktifkan blackberry selama berada di Filipina. Ada 2 pilihan kartu perdana yaitu Smart Card dan Globe Card. Karena counter yang gue jumpai hanya Globe Card akhirnya gue memilih kartu perdana tersebut yang dijual dengan harga PHP 300 dan top up PHP 100 total PHP 400 (sekitar Rp 100rb) yang gue bayarkan dan blackberry langsung aktif seketika dalam hitungan detik.

Kota Manila tidak ubahnya mirip dengan Jakarta dalam urusan transportasi. 11 12 lah kira-kira. Jangan berharap tersedia MRT atau kereta cepat dari bandara yang tersambung dengan pusat kota. Bus? Sebenarnya tersedia namun pilihan rutenya sangat terbatas dan tidak ada yang langsung menuju ke area tempat gue menginap (area Malate) sehingga bus pun tidak dapat gue andalkan. Bagaimana dengan angkutan tradisional Jeepney? Aah...malah lebih ribet apalagi dengan bawaan ransel segede ukuran kambing pasti akan lebih menyengsarakan saat dibawa masuk ke dalam Jeepney dan harus pindah-pindah rute sampai beberapa kali. Ojek motor? Ya kali ada ojek di Manila, emangnya Jakarta hehehee. Trus harus naik apa dong? Tak ada pilihan lain mau gak mau gue harus naik taksi. Tak apalah sesekali bergaya naik taksi dari bandara menuju pusat kota karena menurut info dari teman-teman yang sudah pernah ke Manila sebelumnya tarif taksi di sini tidak terlalu mahal dan terbilang masih masuk akal.

Untung di Terminal 3 NAIA (Ninoy Aquino Intl. Airport) ini terdapat pangkalan taksi yang menggunakan argo resmi jadi lupakan kisah tawar menawar dengan supir taksi dan setidaknya kekhawatiran gue terhadap praktik scam di bandara tidak terjadi.

Setelah diberi secarik kupon oleh petugas di pangkalan taksi sesuai dengan antrian akhirnya taksi bandara berwarna kuning itupun melaju membelah kota Manila menuju pusat kota.  Namun saat gue menyerahkan kupon taksi kepada supir serangkaian kalimat Bahasa Tagalog terucap dari sang sopir yang mengira gue pinoy (sebutan untuk warga Filipina). Setelah gue jawab dalam bahasa Inggris baru sang sopir menyadari kekeliruannya.

Tak heran karena secara fisik wajah orang Indonesia hampir mirip bahkan sama dengan wajah orang Filipina sehingga ketika berada di Manila tak ubahnya sedang berada di Jakarta karena kemiripan tersebut.

Pagi itu suasana kota Manila masih relatif sepi. Mungkin saat gue tiba bertepatan dengan akhir pekan di hari Sabtu (14 Sept 2013). Kesibukan warga berangkat kerja di pagi hari tidak begitu terasa karena mungkin sebagian dari mereka juga ada yang libur di hari Sabtu. Namun kondisi kota Manila hampir sama dengan Jakarta. Lalu lintas yang semerawut ditambah dengan bunyi klakson Jeepney yang memekakkan telinga di sana sini, juga terlihat beberapa perkampungan kumuh di beberapa sudut di kota yang bernama resmi Metro Manila ini.

Jarak dari bandara ke tempat penginapan gue di daerah Malate tidak terlalu jauh dan hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk mencapainya. Malate merupakan salah satu distrik turis di Manila bersama dengan area Ermita. Kedua area tersebut letaknya berdekatan. Di kedua area inilah para backpacker biasanya menginap. Bagi wisatawan yang berkantong tebal atau untuk urusan bisnis biasanya memilih area Makati (Seperti Sudirman-Thamrinnya Jakarta) yamg merupakan pusat bisnis, keuangan serta perdagangan di Kota Manila.

Di area Malate dan Ermita banyak tersebar penginapan dengan harga yang terjangkau oleh para backpacker, restoran dengan bermacam-macam jenis makanan, bar, kafe, convenience store, jasa penukaran uang dll sehingga semua kebutuhan bagi para wisatawan tersedia di area ini.

Where2Next Hostel di Adriatico Street tempat gue menginap terselip di antara bar dan money changer yang mengapit di sisi kanan dan kirinya. Agak sedikit sulit memang mencari letak hostel ini karena papan namanya relatif kecil sehingga luput dari pandangan mata. Setelah menebar pandangan ke setiap sisi kiri kanan jalan akhirnya hostel tersebut ditemukan setelah mengurut nomor bangunan di jalan tersebut.

Tampak Depan Hostel
Namun sayang saat gue tiba di hostel tersebut pukul 8 pagi belum dapat melakukan check-in dan sesuai peraturan check-in dilakukan pukul 12 karena mereka akan beres-beres terlebih dahulu. Akhirnya gue menawar untuk check-in pukul 10 dan diperkenankan. Tas backpack gue titip di hostel dan petualangan di Kota Manila gue mulai.

**********

Adriatico Str Malate masih belum menunjukkan geliatnya pagi itu. Hanya sedikit terlihat aktivitas warga di sepanjang jalan yang gue lalui. Maklum denyut jalan tersebut baru terasa menjelang sore hingga lewat tengah malam.

Gue harus menerima kenyataan kalau gue melakukan perjalanan ke Filipina di Bulan September yang ternyata sudah memasuki musim hujan. Baru berjalan beberapa ratus meter, hujan menyergap langkah gue dan terpaksa harus berteduh untuk beberapa saat. Beruntung gue berteduh di sebuah restoran cepat saji lokal dengan jaringan terbesar di Filipina  yaitu Jollibee. Setidaknya sambil menunggu hujan reda gue sarapan pagi dulu di gerai ini.  Gue teringat restoran cepat saji ini sempat memperluas jaringannya dengan membuka gerainya di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Barat beberapa tahun silam namun nampaknya kurang mendapat respon yang bagus dari warga Jakarta sehingga tidak bertahan lama dan akhirnya harus menutup gerainya.
 
Si Lebah
Menu makanan di Filipina sebagian besar mengandung unsur daging babi ( Tagalog : baboy). Daging babi merajalela di seantero Manila. Bagi non-muslim harus hati-hati dalam memesan makanan. Sebaiknya ditanya lebih dahulu kepada penjual agar tidak salah saat memesan.

Di Jollibee pun tidak luput dari unsur baboy. Gue sendiri sebenarnya tidak terlalu suka dengan baboy namun apa daya pilihan menu sphagetti pada pagi itu mengandung baboy. Ditambah dengan menu kentang goreng dan jus nanas gue hanya membayar PHP 82 (Rp 20,500). Cukup murah. Oh ya di Filipina jus nanas merupakan minuman populer dan merupakan minuman rakyat. Mulai dari pinggir jalan hingga restoran besar minuman ini gampang ditemui.

Murah dan Enak
Sepertinya hujan sudah mulai reda dan gue dapat melanjutkan menjelajahi Kota Manila kembali. Suara klakson Jeepney yang melintas  nyaris mengejutkan gue. Jeepney memang raja jalanan. Angkutan tradisional Filipina yang berupa mobil jeep dengan bentuk badan yang panjang dan dapat memuat penumpang hingga 15-20 orang ini menguasai jalan-jalan di kota Manila.

Secara tidak sengaja mata gue melihat sebuah gereja tua di sekitar Jollibee dan dengan penuh rasa ingin tahu gue mampir ke gereja tersebut yang ternyata adalah Malate Church. Dari prasasti yang terdapat di depan gereja tertulis gereja tersebut telah ada sejak tahun 1588. Saat gue melongok ke dalam sedang ada kegiatan ibadah yang dilaksanakan oleh umat katolik.  

Malate Church dan Jeepney yang Melintas
Lepas dari Adriatico Str gue sampai di jalan raya yang akhirnya gue tahu kalau itu Roxas Boulevard yang merupakan salah satu jalan utama di Manila. Jalur pejalan kaki di sisi Roxas Boulevard cukup lebar dan langsung berhadapan dengan Teluk Manila yang sangat indah terlebih menjelang senja sehingga lokasi ini dimanfaatkan warga lokal untuk bersantai, joging dan aktivitas lainnya. Kedutaan Besar Amerika Serikat pun terletak di Roxas Boulevard ini dan kompleks kedutaan letaknya memanjang dan sangat luas.

Manila Bay
Hanya berjalan kaki sekitar 20 menit gue tiba di Rizal Park yang juga dikenal dengan nama Luneta Park. Taman ini didedikasikan bagi Dr. Jose Rizal, pahlawan nasional Filipina yang dieksekusi mati tahun 1896 saat Filipina masih dijajah oleh Bangsa Spanyol. Rizal Park juga menjadi “Kilometre Zero di Manila.

Rizal Park
Taman ini sangat luas yang mencapai 58 ha dan menjadi atraksi turis yang datang ke Manila. Jika malas untuk jalan kaki tersedia angkutan kereta yang ditarik oleh kuda seperti delman di Indonesia yang bernama kalesa yang akan membawa pengunjung berkeliling taman. Persis di pintu masuk taman terdapat Rizal Monument. Sayangnya pengunjung tidak diperkenankan untuk mendekati area monumen karena diberi pembatas. Pengunjung hanya dapat berfoto dari kejauhan. Terdapat 2 orang pasukan penjaga di sisi kiri dan kanan monumen dan pada jam-jam tertentu dilakukan upacara pergantian pasukan jaga yang menjadi daya tarik bagi para wisatawan.

Pergantian Pasukan Jaga
Selain Rizal Monument, di dalam Rizal Park sendiri dapat dilihat beberapa spot diantaranya National Museum of the Filipino People, Open Air Auditorium, Chinese and Japanese Gardens, Museum of Philippine History, Relief Map of the Philippines – sebuah danau kecil yang menampilkan replika dari kepulauan Filipina, dan patung setengah badan beberapa pahlawan nasional di Filipina. Juga dapat disaksikan diorama tentang hukuman mati terhadap Dr. Jose Rizal di Rizal Park ini. Sayang saat gue berkunjung ke sana sedang dilakukan pekerjaan renovasi di sana sini sehingga terdapat beberapa bagian taman yang ditutup.

Chinese Garden
Patung Pahlawan Nasional Filipina

******

Saatnya kembali ke Where2Next Hostel untuk check-in dan.....mandi. Maklum semaleman belum mandi sejak berangkat dari Jakarta malam sebelumnya. Kamar gue letaknya di lantai 3 dan jenis kamar dormitory untuk 6 orang. Saat gue masuk hanya terdapat 1 orang tamu seorang backpacker asal Canada. Namun sayangnya saat gue masuk beliau ternyata sedang bersiap-siap untuk check-out setelah menjelajahi Filipina selama.......2 bulan!! Hm.....

Kamarnya Bersih
Kamar yang gue tempati cukup nyaman dengan tarif sebesar PHP 1,200 (Rp 150rb) per malam. Selain kamarnya yang bersih, terdapat AC dan kamar mandi di dalam kamar, juga tersedia loker.

Kamar Mandinya Juga Bersih
Seperti halnya kota-kota lain di dunia, Manila juga mempunyai kawasan kota tua yang bernama Intramuros. Letak Intramuros tidak begitu jauh dari Rizal Park jadi gue jalan kaki kembali menuju Intramuros. Di tengah perjalanan lagi-lagi hujan mengguyur sehingga gue harus lari-lari tampan kembali mencari tempat berteduh. Beruntung di sekitar tempat situ terdapat gerai 7 Eleven. Cukup dengan membeli minuman sebotol gue mendapat bonus tempat duduk gratis sambil menunggu hujan reda.

Memasuki kawasan Intramuros di Gen. Luna Street kita seolah-olah dibawa oleh mesin waktu kembali ke masa lalu saat Filipina masih di bawah penjajahan Spanyol. Kawasan Intramuros masih memperlihatkan geliatnya siang itu dengan berbagai aktivitas warganya. Gedung-gedung tua yang menjadi ciri khas dan indentitas Intramuros masih tegak berdiri dan tidak tersapu oleh jaman.

Kaki gue terus melangkah dan tiba di suatu tempat yang menurut gue sangat “Spanyol” banget. Duduk santai di tengah taman yang dikenal dengan Plaza de Roma sambil memandang Manila Chatedral di samping kiri Plaza dan memperhatikan perilaku pengunjung di sekitar sungguh memberikan nuansa yang sungguh berbeda. Gue seolah-olah lupa bahwa gue sekarang sedang berada di Manila bukan di Spanyol.

Plaza de Roma menjadi pusat berkumpul para wisatawan di Intramuros dan  patung Raja Spanyol yaitu Raja Carlos IV yang berada di tengah plaza menjadi ikonnya. Wisatawan dengan berbagai gaya dan aksinya berfoto di sana sini.

Manila Cathedral yang bernama resmi Minor Basilica of the Immaculate Conception telah berdiri sejak 1571. Di usianya yang telah mencapai 442 tahun, katedral ini telah menjalani restorasi sebanyak 8 kali hingga saat ini karena berbagai sebab yaitu kebakaran, gempa bumi, taifun dll. Saat gue ke sanapun sedang dilakukan renovasi di bagian luar katedral sehingga ditutup buat kunjungan wisatawan.

Manila Cathedral yang Megah
Persis di depan Plaza de Roma terdapat Palacio del Gobernador yang awalnya merupakan tempat kediaman dan kantor Gubernur Jenderal Spanyol. Sekarang bangunan 8 lantai tersebut sekarang digunakan sebagai kantor administrasi Intramuros.

Ini Lagi di Manila ato Spanyol yah?
Awalnya gue sangat kepingin untuk menaiki kalesa yaitu sejenis kereta yang ditarik kuda yang banyak mangkal di sekitar Manila Chatedral. Rasanya gimana gitu mengelilingi Intramuros menikmati aura kota tua sambil naik kereta kuda. Namun begitu tahu tarifnya sebesar PHP 350 (Rp 87,500) per ½ jam gue langsung membatalkan niat gue. Ya kali kalau 2 jam saja gue harus membayar Rp 350rb!

Kalesa
Akhirnya gue beralih ke tricycle yaitu angkutan roda 3 sejenis becak. Tricycle ada yang ditarik tenaga manusia, ada juga yang menggunakan tenaga mesin. Khusus yang beroprasi di Intramuros kebanyakan yang ditarik tenaga manusia. Salah seorang sopir tricycle membuntuti sejak gue datang dan terus menawarkan jasanya namun gue belum bergeming untuk menerima tawarannya. Bahkan saat gue bersantai di Plaza de Roma pun beliau terus menunggui gue.

Akhirnya gue putuskan untuk menggunakan tricycle saat menjelajah Intramuros dan gue berjalan agak menjauh dari posisi gue saat itu untuk mencari tricycle yang kebetulan sedang lewat. Pengemudi tricycle menawarkan harga PHP 300 (Rp 75rb) selama ½ jam. Gue pikir sebentar amat cuma ½ jam mana keburu untuk keliling Intramuros.

Akhirnya gue tawar PHP 250 (Rp 62,500) selama 1 jam dan abang tricycle pun menyetujuinya.  Tanpa menunggu lama gue langsung masuk ke dalam tricycle  yang ternyata space nya sangat sempit dan hanya muat untuk maksimal 2 orang. Abang tricycle pun tancap gas menggowes tricycle nya.

Ternyata kawasan Intramuros ini sangat luas dan rasanya tidak memungkinkan untuk melihat semua objek dan menjelajahi seluruh area dengan berjalan kaki. Berkeliling kawasan Intramuros serasa ditarik mundur oleh mesin waktu beberapa ratus tahun silam. Puluhan gedung-gedung tua masih dipertahankan sesuai dengan aslinya, bahkan ada yang masih dipergunakan hingga sekarang berupa sekolah, gereja, perkantoran komersil, kafe, penginapan dll.

Yuuk Gowes Tricycle..
Saat tricycle melewati Intendencia, gedung tua bekas kantor bea cukai pada masa kolonial Spanyol gue sengaja meminta supir tricycle untuk berhenti sejenak agar gue dapat memanjakan mata gue melihat gedung yang sangat artistik ini dengan puas.

Bangunan Intendencia
Fort Santiago tak pelak menjadi spot paling populer di Intramuros. Komplek benteng yang telah ada sejak tahun 1571 menjadi titik sejarah penting di Manila. Benteng ini sempat mengalami kerusakan pada masa Perang Dunia II. Di dalam benteng ini juga terdapat penjara tempat dimana Dr. Jose Rizal, pahlawan nasional Filipina pernah ditahan sebelum menjalani eksekusi mati di Luneta Park tahun 1896 saat Filipina berada di bawah penjajahan Spanyol.

Gerbang Fort Santiago
Rumah tempat Dr. Jose Rizal pernah ditahan sekarang menjadi museum yang disebut Rizal Shrine. Di tempat ini masih dapat  dilihat jejak kehidupan Dr. Jose Rizal saat beliau menjalani profesi sebagai seorang dokter dan perjuangannya melawan kolonial Spanyol.

Rizal Shrine
Koleksi Rizal Shrine
Hujan deras mengguyur kawasan Intramuros dan beruntung gue bisa berteduh sambil melihat koleksi yang ada di Museum Rizal Shrine ini. Bau tanah yang khas setelah hujan selesai menyeruak masuk ke dalam Rizal Shrine seolah memberikan suasana mencekam. Sungai Pasig yang membelah kawasan Intramuros  dan kawasan Binondo (China Town di Manila) dapat disaksikan dari Rizal Shrine.

Pasig River
Gerimis kecil mengiringi kepergian gue dari Fort Santiago. Sesaat gue melihat sejumlah pekerja masih bekerja dalam proyek restorasi di beberapa sisi di gerbang utama Fort Santiago. Supir tricycle masih lincah menggowes tricyclenya saat gue memintanya untuk berhenti di alun-alun kecil yang menarik perhatian gue. 

Ternyata alun-alun kecil itu adalah Plazuela De Santa Isabel. Di alun-alun ini dibangun sebuah monumen untuk memperingati 100 ribu orang yang terdiri dari wanita, pria dan anak-anak  yang telah gugur saat perang di bulan Feb-Mar 1945. Tampak rombongan turis Jepang terlihat bergerombol dan berfoto di depan monumen.


Tak disangka di balik kota tua yang bersahaja ini terdapat hotel di dalam komplek Museum Casa Manila.  Menyusuri lorong yang terdapat di Casa Manila menuju White Knight Hotel Intramuros sambil melewati kafe, toko suvernir dan berhenti di satu titik yang terdapat air mancur kecil di sebuah taman di tengah Casa Manila sungguh menggelorakan emosi gue. Sungguh gue sangat kagum dengan usaha pemerintah kota Manila yang sungguh serius menjaga serta merawat kawasan ini sehingga masih dapat disaksikan dengan utuh bangunan yang telah berusia ratusan tahun ini.

Hotel Eksotis di Balik Casa Manila


Casa Manila
Lorong di Casa Manila
Di Intramuros ini kita juga masih dapat menyusuri jejak peninggalan Bangsa Spanyol yang masuk dalam UNESCO World Heritage tahun 1993. Gereja San Agustin masih berdiri tegak dengan kokohnya hingga sekarang. Bangunan bergaya barouqe ini didirikan pada tahun 1586 dan penyelesaiannya membutuhkan waktu selama 21 tahun saat diselesaikan tahun 1607. Gereja yang berdiri sekarang adalah gereja generasi ke-3. Gereje generasi pertama didirikan tahun 1571 yang terbuat dari nipa dan bambu namun terbakar habis tahun 1574 dan dibangun kembali gereja generasi ke-2 namun kembali habis terbakar tahun 1583. Miguel Lopez de Legazpi Gubernur Jenderal Spanyol pertama di Filiphina dimakamkan di dalam komplek gereja ini.

Gereja San Agustin Warisan Dunia UNESCO

Untuk masuk ke dalam gereja ini tidak dipungut biaya namun untuk masuk ke dalam museum pengunjung harus membayar sebesar PHP 100. Karena terburu-buru gue tidak sempat untuk masuk ke dalam museum.

Tidak terasa 3 jam sudah gue menjelajahi kota tua Intramuros. Dan kawasan China Town di Binondo, seberang Sungai Pasig mengusik rasa penasaran gue untuk berkunjung ke sana. Gue minta supir tricycle untuk sekalian mengantar ke sana dengan tambahan ongkos karena seharusnya gue diantar kembali ke gerbang masuk Intramuros di bundaran Plaza de Roma.  

Jalan menuju kawasan China Town tidak bersahabat bagi kendaraan yang menggunakan tenaga manusia karena struktur jalannya naik turun dan supir tricycle sempat 2x meminta gue untuk turun karena beliau sudah ngos-ngosan menggowes tricyclenya saat jalan mendaki.

Akhirnya gue tiba di Binondo dan saat akan membayar ongkos tricycle gue kaget bukan kepalang karena si supir menulis pada secarik kertas jumlah yang harus gue bayar saat itu sebesar PHP 3,500!! Dengan raut muka heran gue menatap wajah supir tricycle dan bertanya darimana hitungan sebesar itu??

Beliau menjelaskan bahwa harga saat deal awal sebesar PHP 250 adalah harga untuk ½ jam dan beliau tidak memberitahukan ke gue sejak awal untuk selanjutnya berlaku kelipatan setiap ½ jam. Jelas-jelas gue merasa dijebak dan ditipu saat itu. Nah karena gue telah ditemani selama 3 jam dan ongkos tambahan ke Binondo jadi gue harus membayar PHP 3,500. Begitu argumentasi sang sopir.

Whaat??? Gue setengah berteriak...kalau dalam hitungan matematika jumlah yang harus gue bayar untuk 3 jam sebesar PHP 1,500 + ongkos tambahan ke Binondo maksimal gue membayar PHP 1,700. “Sekarang Anda meminta PHP 3,500?” Teriak gue dengan marahnya...

Negosiasi pun terjadi. Supir menurunkan menjadi PHP 3,000 dan gue masih menolak untuk membayar. Gue bersikukuh hanya akan membayar PHP 1,500 dan tarif itupun menurut gue masih termasuk mahal. Akhirnya sopir menurunkan kembali harganya menjadi PHP 2,500 dan gue masih dengan nada marah menolak tawarannya. Harga kembali meluncur turun menjadi PHP 2,000 dan dengan kesalnya gue menyetujuinya karena gue sudah males untuk negosiasi kembali. Hufft...Rp 500rb melayang hanya untuk keliling selama 3 jam. Benar-benar menjadi pelajaran berharga buat gue untuk selalu berhati-hati dalam tawar menawar harga karena traveling kemanapun faktor scam terhadap turis asing pasti selalu ada.

Semangat gue sudah drop untuk menjelajahi kawasan Pecinan di Kota Manila yang sore itu suasananya masih padat dan ramai. Sama halnya dengan kawasan Pecinan di kota-kota lain di seluruh dunia, kawasan Binondo dipenuhi dengan pertokoan, kantor, bank  dan tentunya restoran yang tidak hanya menyajikan masakan khas China namun masakan lokalpun bertebaran di sana sini.

Kawasan Pecinan di Manila

Keinginan gue untuk mencari makanan khas Filiphina Balut yaitu telur rebus yang masih berisi embrio unggas tidak kesampaian. Gue berjalan ke sana kemari masuk keluar gang untuk mencari Balut tersebut namun tetap tidak menemukannya. Sempat mendapat informasi dari teman kalau ada yang menjualnya di sudut gereja di ujung jalan namun setelah gue datangin tidak ada tanda-tanda penjual Balut di situ.

Lelah sudah berjalan ke sana kemari akhirnya kaki gue arahkan untuk masuk ke dalam sebuah restoran untuk makan malam. Setidaknya rasa kesal setelah dijebak dan ditipu oleh supir tricycle  tadi sore sedikit terobati dengan makan kenyang malam itu.

8 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada rekomendasi sim card untuk android ga, mas?

      Delete
    2. Kalo SIM Card saya menggunakan provider Globe Telecom yg sangat bagus dipake dio Manila, bisa untuk android juga. Tapi kalo di Puerto Princessa sinyal yg lebih bagus milik competitornya yaitu Smart Communications.

      Delete
    3. This comment has been removed by a blog administrator.

      Delete
    4. This comment has been removed by a blog administrator.

      Delete
    5. This comment has been removed by a blog administrator.

      Delete
  2. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete