Monday, November 18, 2013

Drama Makan Siang di Tagaytay





Taal Lake and Volcano

Sarapan pagi baru saja gue selesaikan.  Satu set sarapan pagi berupa roti, telur, buah-buahan dan teh hangat sudah cukup untuk mengisi perut gue pagi itu. Kondisi mata masih setengah mengantuk ketika gue melangkah keluar hostel. Dan hujan gerimis di pagi itu ketika gue memberhentikan taksi untuk minta diantarkan ke Coastal Terminal. Jalanan kota Manila masih sepi di pagi hari Minggu tanggal 15 September 2013. Mungkin sebagian warga Manila masih terlelap tidur apalagi kondisi cuaca di luar sangat mendukung untuk tidak segera beranjak dari tempat tidur.
 


Hanya 20 menit waktu yang dibutuhkan untuk mencapai Coastal Terminal yang pagi itu suasananya justru sangat ramai. Coastal Terminal sendiri merupakan terminal bis yang melayani rute atau jalur ke selatan seperti ke Tagaytay, Batangas, dll. Hari itu gue akan menuju kota Tagaytay di Provinsi  Cavite yang ditempuh sekitar 2 jam perjalanan dari kota Manila.

Coastal Terminal
Pandangan mata gue menyapu segenap penjuru terminal. Setiap platform gue pelototi satu persatu untuk mencari bus jurusan Tagaytay. Aah....ternyata tidak sulit untuk menemukannya. Dengan sedikit lari-lari kecil gue menghampiri Bus San Agustin yang sedang ngetem di jalur menuju Tagaytay. Setelah memastikan dengan bertanya kepada sopir gue memantapkan diri untuk segera naik. Sebenarnya tujuan akhir bus adalah ke Nusugbu namun melewati Tagaytay dan rutenya tertulis di kaca depan bus.

Bus sudah terisi sekitar 80% penumpang dan gue mengambil duduk di posisi tengah di pinggir gang. Tanpa menunggu terlalu lama bus segera berangkat dengan kondisi bus nyaris terisi penuh. Setelah melaju beberapa saat, kenek bus mulai bekerja menghampiri setiap penumpang. Gue pikir sang kenek akan memungut biaya perjalanan. Ternyata sang sopir tidak langsung memungut biaya melainkan menanyakan terlebih dahulu tujuan/rute kepada setiap penumpang.

Gue baru tahu ternyata penentuan tarifnya berdasarkan jarak jauh/dekat yang akan ditempuh setiap penumpang. Setelah kita memberi tahu tujuan kepada sang kenek maka kita akan diberi sepotong karcis yang di dalam karcis tersebut berisikan angka-angka satuan, puluhan dan ratusan dan angka tersebut dilobangi oleh sang kenek. Angka yang dilobangi itu adalah tarif yang harus dibayar oleh penumpang. Jurusan Tagaytay dilobangi pada angka 70 di baris pertama dan di angka 9 di baris ketiga berarti gue harus membayar sebesar PHP 79 (sekitar Rp 20,500).

Tiket Bus
Bus melaju dengan kecepatan sedang melintas di Aguinaldo Highway dan di beberapa titik mengambil penumpang. Sama halnya di Jakarta jika tidak ada lagi kursi kosong maka penumpang terpaksa harus berdiri dan sang sopir terus memaksakan hingga kapasitas bus penuh.

Dua jam berlalu dan sebelumnya gue telah berpesan kepada sang kenek kalau gue akan turun di Olivarez Square yaitu jalan utama yang merupakan jalur masuk ke  kota Tagaytay.  Rata-rata penumpang yang akan ke Tagaytay turun di jalan ini karena Tagaytay sendiri tidak memiliki terminal bus.

Olivarez Square
Turun dari bus, penumpang diserbu oleh tawaran dari travel agent dan supir tricycle  berupa paket tur ke Taal Lake di mana terdapat gugusan volcano di tengah danau yang merupakan objek wisata utama di Tagaytay. Gue sendiri memilih melipir ke gerai 7 Eleven untuk beristirahat sejenak sambil melepaskan dahaga.

Kota Tagaytay yang terletak di provinsi Cavite merupakan tujuan liburan populer bagi warga Manila dan juga turis asing. Kota ini terletak di dataran tinggi dengan suhu rata-rata 200-250 sehingga tidak heran kota ini sangat sejuk mirip dengan suasana Puncak di Jawa Barat.

Sebenarnya tujuan gue kemari hanya untuk menikmati Taal Lake dari ketinggian sambil menikmati makan siang di restoran yang berderet di tepi danau. Beberapa hotel juga terlihat berderet menyesaki tepian tebing menghadap danau. Beberapa diantaranya memasang spanduk promo diskon harga kamar sebesar 50% di musim hujan.

Keinginan untuk turun ke danau dan menyeberang ke gunung di tengah danau sepertinya harus gue redam karena setelah membaca di internet harga paket tersebut sangat mahal rata-rata menawarkan harga di atas PHP 3,500 ( di atas Rp 800,000).

Di sebelah kiri bundaran kota Tagaytay terdapat sebuah anjungan dimana kita dapat menyaksikan keindahan Taal Lake dengan volcanonya dari kejauhan. Sedang asyik menikmati keindahan danau, hujan deras mengguyur dan perlahan danau tertutup kabut. Cukup lama gue harus berteduh dan menunggu sampai hujan reda.

Anjungan
Sembari menunggu hujan reda gue bertanya kepada seorang bapak polisi yang juga sedang berteduh di situ harga paket menuju danau beserta volcano. Beliau tidak tahu pasti harganya dan menyarankan gue untuk menanyakan langsung kepada sopir tricycle yang banyak menawarkan jasa dipinggir jalan. Namun yang pasti harganya di atas PHP 3,000. Hm... ternyata benar harga yang ditawarkan di internet pun tidak jauh berbeda di kisaran harga tersebut dan semakin memantapkan gue untuk tidak ke sana apalagi di saat cuaca hujan seperti ini, sangat tidak layak dengan harga yang dibayarkan.    


******


Gue menyetop jeepney yang kebetulan sedang melintas untuk menuju tempat makan siang di pinggir danau. Tidak banyak penumpang saat itu dan gue mengambil posisi duduk di dekat sopir  agar bisa ngobrol-ngobrol dengan sang sopir. Dan seperti bisa diduga gue disangka pinoy sebelum gue berbicara dalam bahasa Inggris.

Nampang di Dalam Jeepney :)
Ongkos Jeepney sangat murah hanya PHP 8 (Rp 2rb) dan gue berhenti di dereta restoran sepanjang jalan di tepi Taal Lake. Nah masalahnya restoran mana yang harus gue masuki? Beberapa teman yang sudah pernah kemari saat gue tanya semuanya lupa nama restoran yang direkomendasikan. Baru berjalan beberapa langkah kembali air ditumpahkan dari langit dengan sangat deras dan untung di dekat situ terdapat halte bis dan dengan lari-lari tampan terpaksa gue menuju  ke halte bis tersebut untuk berteduh. Cuaca memang sedang tidak bersahabat. Tapi apa mau dikata gue nikmati saja perjalanan ini.

Sembari menunggu hujan reda gue mencari rekomendasi restoran via Trip Advisor dan menemukan restoran RSM Lutong Bahay. Tidak sulit untuk menemukan lokasi restoran ini karena dekat dengan halte bis tempat gue berteduh.

RSM Lutong Bahay
Memasuki halaman restoran membuat hati gue ciut. Apalagi saat tiba di depan gedung restoran membuat hati gue gentar hahahaha. Pikiran langsung tertuju pada urusan kantong. Tapi sudah kepalang tanggung kaki sudah melangkah masuk. Seorang staf restoran menyambut kedatangan gue di pintu masuk dan gue langsung request tempat duduk di galery pinggir danau. Gue tidak yakin bisa mendapat tempat di bagian favorit tersebut apalagi di saat puncak jam makan siang.

Gedung Restoran RSM Lutong Bahay
Dan terbukti semua tempat mulai dari galery pinggir danau sampai tempat biasa pun penuh sesak oleh pengunjung padahal kapasitas restoran ini sangat besar. Tak salah memang Trip Advisor memberikan rekomendasi atas restoran ini.

Akhirnya gue mendapat tempat di salah satu pondok persis di depan galery yang menghadap danau. Gue pikir lumayanlah walaupun tidak di tepi danau persis. Namun keberuntungan datang ketika pengunjung di salah satu galery tepi danau sudah selesai dan pergi. Gue langsung request kepada pelayan untuk pindah ke tempat strategis tersebut.

Gallery Tepi Danau
Kening gue mengernyit saat melihat harga-harga di buku menu. Porsi yang tersedia rata-rata ukuran besar untuk beberapa orang dan sudah pasti berpengaruh kepada harga. Sudah terbayang jumlah Peso yang bakal gue gelontorkan dari dompet.

Pilihan menu jatuh kepada Karekare Bangus Bely, Adobo Kangkong Garlic dan Halo-halo Ice.  Sembari menunggu pesanan datang saat yang tepat untuk menikmati view danau beserta volcanonya. Namun sayang pemandangan saat itu tidak maksimal karena masih agak berkabut setelah hujan.

Cukup lama gue menunggu pesanan datang karena pengunjung memang sangat ramai saat itu. Belum juga pesanan gue datang, hujan kembali memperlihatkan aksinya dan kali ini disertai dengan angin sehingga air hujan menerpa tempat duduk gue. Duh... memang makan siang kali ini penuh dengan drama. Mau gak mau terpaksa gue dipindahkan kembali dan kali ini terpaksa gue harus masuk ke dalam gedung restoran.

Pesanan pun akhirnya datang dan membuat gue ternganga adalah porsinya yang segede gajah dan gue harus berjuang untuk menghabiskannya sendirian. Baik...tak masalah gue nikmati saja.

Karekare Bangus Bely berisikan ikan (sepertinya kakap) yang dimasak santan+bumbu kacang dilengkapi dengan sayur kacang panjang dan terong. Karekare ini dimakan bersama dengan bumbu sambal (gue gak tahu persis namanya) yang disajikan terpisah.

Adobo Kangkong Garlic ternyata sayur kangkung seperti halnya kangkung di Indonesia hanya ukuran kangkung di sini besar-besar. Dilengkapi dengan toping jamur kancing dan ditumis dengan bawang putih membuat sayur kangkung ini terasa garing saat disantap. Semangkuk kuah sup sayuran yang segar disajikan berupa compliment.

Penampakan Makan Siang itu
Sepertinya saat yang tidak tepat di saat hujan, menutup hidangan dengan Halo-halo Ice. Karena penasaran dan diingatkan seorang teman sebelum gue berangkat ke Filiphina, gue memesan es ini. Ternyata wujudnya seperti es campur namun isinya lebih rame dan bervariasi dan jarang gue temui isi seperti ini  di Indonesia. Ternyata es ini memang enak!

Es Halo-Halo
Saatnya untuk membayar dan gue merasa deg-degan. Ketika tagihan disodorkan, jreng....jreng ...berapakah yang harus gue bayar? PHP 800.63 “saja” pemirsa J (sekitar Rp 208rb). Harga yang fantastis dan rekor harga yang gue bayar untuk makan sendirian. Namun gue nikmati saja karena memang makanannya sudah masuk perut dan ini menjadi bagian dari cerita perjalanan gue.

Miris Melihat Tagihan Ini...
Gue berjalan gontai keluar restoran dengan berbagai perasaan yang bercampur aduk. Ternyata....makan siang di Tagaytay memang penuh drama. Hujan kembali tercurah mengiringi gue kembali ke Manila sore itu.

5 comments:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by a blog administrator.

      Delete
    2. This comment has been removed by a blog administrator.

      Delete
  2. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete